15 January 2026, 17:32

Malam 27 Rajab 2026 Dipercaya Mustajab, Ini Doa-Dzikir yang Banyak Dicari agar Hajat Terkabul

Memasuki malam 27 Rajab, banyak umat Islam berupaya menghidupkan malam dengan rangkaian amalan, mulai dari salat sunnah, memperbanyak doa, hingga dzikir

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
3,088
Malam 27 Rajab 2026 Dipercaya Mustajab, Ini Doa-Dzikir yang Banyak Dicari agar Hajat Terkabul
Berdoa. Foto: H9images/Freepik

Perspektif.co.id - Memasuki malam 27 Rajab, banyak umat Islam berupaya menghidupkan malam dengan rangkaian amalan, mulai dari salat sunnah, memperbanyak doa, hingga dzikir tertentu yang diyakini membawa keberkahan. Malam 27 Rajab kerap dikaitkan dengan kedekatan peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, sehingga sebagian masyarakat memandangnya sebagai salah satu malam yang diutamakan untuk memperbanyak ibadah dan memohon hajat kepada Allah SWT.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia terbitan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, 27 Rajab 1447 H jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026. Artinya, amalan malam 27 Rajab bisa dimulai sejak Kamis petang, 15 Januari 2026 setelah Magrib, lalu berlanjut hingga malam harinya. Di sejumlah penamaan tradisional, momen ini juga kerap disebut sebagai “Jumat malam” atau “malam Jumat” yang identik dengan waktu memperbanyak wirid dan doa.

Dalam sejumlah rujukan yang kerap diamalkan, malam 27 Rajab disebut termasuk deretan malam istimewa yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan amal saleh. Salah satu referensi yang sering dikutip adalah Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, yang dalam terjemahan disebut menempatkan malam 27 Rajab di antara malam-malam yang memiliki keutamaan untuk memperbanyak ibadah.

Bagi masyarakat yang ingin memanjatkan hajat, terdapat doa khusus yang disebutkan dalam kitab Nurul Anwar wa Kanzul Abrar fi Dzikris Shalati ‘alan Nabi al-Mukhtar karya Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi al-Qadari. Bacaan doa ini juga dinukil dalam sejumlah kanal keislaman, termasuk NU Online. Doa tersebut berbunyi:

“اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِينَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِينَ وَتُجِيبَ دَعْوَتِي يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ”

Allāhumma innī as’aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil lati khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi‘i wal ‘isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da‘watī yā akramal akramīn.

Artinya: “Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kau merahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.”

Selain doa, ada pula rangkaian dzikir yang disebutkan untuk dibaca pada malam 27 Rajab. Dalam kutipan yang merujuk Ihya Ulumuddin, disebutkan anjuran memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW dan istighfar sebanyak 100 kali, kemudian berdoa untuk diri sendiri dengan hajat yang diinginkan, baik urusan dunia maupun akhirat. Dalam praktik yang sering disampaikan, dzikir malam 27 Rajab dapat dibaca dengan susunan berikut.

Pertama, membaca kalimat thayyibah sebanyak 100 kali:

“سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ”

Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa Allah wa Allahu Akbar.

Artinya: “Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.”

Kedua, membaca istighfar 100 kali:

“اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ”

Astaghfirullahal ‘adziim.

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

Ketiga, membaca shalawat kepada Nabi SAW sebanyak 100 kali:

“صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد”

Shallallaahu ‘ala Muhammad.

Artinya: “Ya Allah berikanlah tambahan rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad.”

Dalam praktik amalan yang banyak beredar, rangkaian dzikir tersebut kerap dianjurkan dilakukan setelah salat sunnah 12 rakaat terlebih dahulu. Format salatnya biasa dikerjakan dua rakaat salam, hingga genap 12 rakaat, lalu dilanjutkan membaca shalawat, istighfar, dan memanjatkan doa sesuai hajat. Selain itu, sebagian rujukan juga menyebutkan anjuran puasa sunnah pada pagi harinya sebagai bagian dari amalan yang mengiringi malam 27 Rajab.

Meski begitu, bagi masyarakat yang ingin mengamalkan doa dan dzikir malam 27 Rajab, para ulama juga kerap mengingatkan agar esensinya tetap pada memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan kata lain, fokus utamanya bukan semata mengejar “ritual tertentu”, melainkan menghidupkan malam dengan salat, dzikir, shalawat, tilawah, serta doa yang tulus—seraya berharap kebaikan, keteguhan iman, dan jalan keluar atas berbagai hajat yang dipanjatkan.

Berita Terkait