22 December 2025, 18:45

Nekat Mendaki Saat Jalur Ditutup, Dua Pendaki Ilegal Hilang di Gunung Merapi

Dua orang pendaki yang diduga melakukan pendakian secara ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dilaporkan hilang setelah turun dari area puncak.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,952
Nekat Mendaki Saat Jalur Ditutup, Dua Pendaki Ilegal Hilang di Gunung Merapi
Ilustrasi, Pendaki ilegal hilang di Gunung Merapi. (AFP/DEVI RAHMAN)

Perspektif.co.id - Dua orang pendaki yang diduga melakukan pendakian secara ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dilaporkan hilang setelah turun dari area puncak. Tim gabungan yang melibatkan unsur SAR, Basarnas, kepolisian, hingga warga setempat melakukan pencarian dengan menyisir sejumlah titik jalur turun di wilayah Klaten, Jawa Tengah.

Kepala Balai TNGM Muhammad Wahyudi menjelaskan, peristiwa berawal dari tiga orang yang mendaki lewat jalur Kalitalang-Klaten pada Sabtu (20/12) dini hari. Menurut Wahyudi, ketiganya sempat mencapai Pasar Bubrah sebelum memutuskan turun melalui jalur Sapuangin-Klaten. 

Di tengah perjalanan turun, satu orang mengalami sakit pada kaki dan meminta dua rekannya melanjutkan perjalanan untuk mencari pertolongan. Dua pendaki itu kemudian bergerak turun, namun kondisi memburuk karena hari sudah malam, gelap, serta vegetasi rapat, sehingga keduanya memutuskan bertahan di jalur pendakian.

Pada Minggu (21/12) pagi, dua pendaki tersebut kembali mencoba turun. Dalam perjalanan, salah satu pendaki terperosok, tetapi masih sanggup melanjutkan perjalanan dan meminta rekannya yang berada di atas lereng tetap meneruskan langkah mencari jalan keluar. Pendaki yang terperosok itu akhirnya bertemu warga Sapuangin dan mendapat pertolongan.

Sampai dengan Senin (22/12) hanya satu orang yang berhasil turun, sementara dua lainnya masih belum diketahui keberadaannya,” kata Wahyudi dalam keterangan tertulis. Ia juga meminta doa masyarakat agar proses pencarian dan evakuasi berjalan lancar. 

Informasi mengenai dua pendaki yang belum kembali itu juga terkonfirmasi dari aparat setempat. Kapolsek Kemalang AKP Sarwoko mengatakan pencarian dilakukan bersama SAR, Basarnas, dan warga, dengan kondisi lapangan yang diguyur hujan sejak sore. “Betul sore ini kita lakukan pencarian bersama SAR, Basarnas, dan warga. Kondisi hujan sejak sore,” ujarnya.

Sarwoko menyebut, dari keterangan yang dihimpun, rombongan pendaki berjumlah tiga orang dan berangkat Sabtu (20/12) sekitar pukul 04.00 WIB. Kendaraan roda dua mereka diparkir di dekat rumah warga setempat. Dari tiga orang itu, hanya satu yang berhasil turun lebih dulu, sementara dua lainnya diduga tersesat. 

Sementara itu, pencarian pada Senin (22/12) dilaporkan makin terarah. Kepala Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Kemalang, Marjono, menyatakan penyisiran difokuskan pada area Pos 1, termasuk titik-titik bawah seperti Gua Jepang dan Sendang Gumuling. Ia menyebut operasi melibatkan beberapa SRU (search and rescue unit) SAR gabungan, dengan penyisiran di sekitar jalur Sapuangin.

Marjono menegaskan, status pendakian yang dilakukan ketiganya masuk kategori ilegal lantaran jalur pendakian Gunung Merapi belum dibuka, sejalan dengan status kegunungapian yang masih Siaga (Level III). Pihak TNGM kembali mengingatkan masyarakat untuk mematuhi larangan pendakian. 

Larangan pendakian Merapi sendiri sudah berlangsung sejak Mei 2018 ketika status gunung meningkat, dan hingga kini belum ada perubahan status dari Siaga (Level III) yang ditetapkan sejak November 2020. Balai TNGM menekankan bahwa rekomendasi kebencanaan dari otoritas pemantauan harus menjadi acuan, sehingga aktivitas pendakian tidak disarankan. 

Kasus ini kembali menyoroti risiko besar pendakian di gunung berapi aktif—terlebih saat jalur resmi ditutup dan cuaca lapangan tidak bersahabat. Tim gabungan masih melanjutkan pencarian, sementara pihak taman nasional mengimbau agar warga tidak mencoba “mencari celah” lewat jalur tak resmi yang justru meningkatkan bahaya bagi diri sendiri dan menyulitkan proses penyelamatan. 

Berita Terkait