04 December 2025, 17:19

Ribut Tambang Batu Bara, Said Abdullah Ingatkan Perpecahan PBNU Bisa Rugikan Bangsa

Politikus PDI Perjuangan yang juga warga Nahdlatul Ulama (NU), Said Abdullah, menyuarakan keprihatinan mendalam atas konflik terbuka yang kini terjadi.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,343
Ribut Tambang Batu Bara, Said Abdullah Ingatkan Perpecahan PBNU Bisa Rugikan Bangsa
Foto: dok. Said Abdullah

JAKARTA, Perspektif.co.id - Politikus PDI Perjuangan yang juga warga Nahdlatul Ulama (NU), Said Abdullah, menyuarakan keprihatinan mendalam atas konflik terbuka yang kini terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menilai perpecahan di jajaran pengurus pusat organisasi Islam terbesar di Indonesia itu bukan hanya merusak marwah ulama, tetapi juga berpotensi merugikan bangsa secara keseluruhan.

Said mengaku sedih melihat silang pendapat di internal PBNU menjalar menjadi perseteruan terbuka, lengkap dengan saling pecat antar-kiai dan masayih yang duduk di struktur organisasi. Ia menyoroti fakta bahwa sumber perselisihan justru terkait urusan duniawi, yakni pengelolaan konsesi tambang batu bara yang diberikan pemerintah kepada sejumlah organisasi kemasyarakatan, termasuk NU.

Baginya, polemik soal bisnis seharusnya tidak naik kelas menjadi sumber perpecahan di jam’iyah yang selama ini dikenal menjadi rujukan akhlak dan keilmuan. Sebagai kader yang sejak kecil dibesarkan dalam tradisi pesantren dan kultur nahdliyin, Said menegaskan bahwa NU semestinya tetap memegang teguh ajaran tawadhu, tabayun, dan akhlakul karimah sebagaimana diajarkan dalam kitab-kitab dasar di pesantren.

“Sebagai bagian dari jam’iyah ini, saya sedih dan merasa malu,” ujarnya. Ia mempertanyakan apakah tradisi musyawarah, rendah hati, dan saling mengingatkan dengan cara yang santun sudah tidak lagi hidup di PBNU hingga perbedaan pendapat berubah menjadi konflik terbuka.

Said mengingatkan bahwa para kiai dan ulama PBNU selama ini menjadi teladan moral bagi jutaan warga NU. Karena itu, perseteruan yang disaksikan publik hari ini dinilai berbanding terbalik dengan nilai yang diajarkan kepada jamaah di akar rumput. Ia berharap para sesepuh NU segera turun tangan menjadi penengah.

Ia secara khusus mengimbau para masyayikh, kiai sepuh, dan jajaran musytasyar maupun ahlul halli wal aqdi di lingkungan NU untuk mengambil peran aktif mendorong jalan damai. Menurutnya, penyelesaian melalui jalur islah harus diutamakan agar tidak menyisakan luka berkepanjangan di tubuh organisasi.

Said juga menegaskan, dampak perpecahan internal PBNU tidak berhenti pada lingkup organisasi. Sebagai ormas Islam besar yang selama ini menjadi “jangkar” utama kekuatan Islam Indonesia bersama Muhammadiyah, NU memegang peran penting dalam pendidikan karakter, dakwah moderat, sekaligus pelayanan sosial dan ekonomi bagi umat. Jika energi pengurus tersedot untuk mengurus konflik, ia khawatir pelayanan ke basis jamaah akan terabaikan.

Bila konflik terus dibiarkan tanpa solusi damai, ia menilai pola penyelesaian yang hanya bertumpu pada mekanisme pemecatan dan pemutusan hubungan organisasi justru akan melahirkan situasi saling menang-kalah. Model penyelesaian semacam itu, kata Said, berpotensi meninggalkan rasa terhina dan martabat yang terciderai di salah satu atau kedua belah pihak, sesuatu yang sulit dihapus hanya dengan keputusan administratif.

Pada saat yang sama, ia juga mengingatkan para pendukung dan simpatisan di kedua kubu untuk tidak memperluas medan konflik. Said meminta basis jamaah dan komunitas pendukung di akar rumput menahan diri, tidak saling menyulut emosi di media massa, media sosial, maupun dalam berbagai pertemuan fisik.

Ia menyerukan agar semua pihak menjaga suasana tetap sejuk dan mengedepankan semangat persatuan demi kepentingan yang lebih besar. Dengan demikian, tensi konflik di tubuh PBNU diharapkan tidak merembet dan memecah belah umat.

Said menutup seruannya dengan doa dan harapan agar para ulama kembali mengedepankan kelapangan hati, ikhtiar, dan tawakal dalam mencari jalan keluar terbaik atas konflik yang terjadi. Ia menegaskan bahwa jutaan warga NU menanti teladan islah dari para pemimpinnya.

“Saya yakin dengan keluasan hati dan semangat pengabdian kepada umat, para ulama kita bisa menempuh jalan islah. Kami para jam’iyah mendoakan hal itu segera terwujud,” pungkasnya.

Berita Terkait