24 January 2026, 14:27

Banjir Bak Ombak Laut Rendam Green Lavender Bekasi, Warga Dievakuasi Perahu Karet

Rekaman video banjir parah yang beredar di media sosial kembali menyorot kondisi perumahan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
1,353
Banjir Bak Ombak Laut Rendam Green Lavender Bekasi, Warga Dievakuasi Perahu Karet
Sebuah video di media sosial memperlihatkan banjir parah merendam kawasan perumahan di Bekasi dengan arus yang mengalir deras bak ombak di laut. (Arsip CNN Indonesia).

Perspektif.co.id - Rekaman video banjir parah yang beredar di media sosial kembali menyorot kondisi perumahan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dalam video itu, air cokelat keruh mengalir sangat deras hingga membuat perekam terapung dan tidak bisa berpijak, memaksa warga berenang untuk bertahan. Lokasi disebut berada di Perumahan Green Lavender, Sukamekar Regency, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi. 

Seiring viralnya video tersebut, kepolisian turun membantu penanganan di lapangan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebut banjir berdampak pada warga di Perum Green Lavender RT 01 RW 02 Desa Sukamekar, Sukawangi, Kabupaten Bekasi, usai hujan deras mengguyur wilayah itu. “Yang terdampak itu warga di Perum Green Lavender RT 01 RW 02 Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi,” kata Budi Hermanto.

Kapolres Metro Bekasi Kombes Sumarni menyatakan personel ikut mengevakuasi warga dan mengerahkan perahu karet untuk memindahkan mereka ke lokasi penampungan. “Untuk penanganan banjir di perumahan Perumahan Green Lavender, kami sudah mengevakuasi warga untuk pindah ke penampungan menggunakan perahu karet,” ujar Sumarni. 

Di tingkat desa, banjir juga dilaporkan menggenangi permukiman warga dengan ketinggian signifikan akibat luapan Kali CBL (Cikarang Bekasi Laut). Sekretaris Desa Sukamekar, Taufik, mengatakan banjir di wilayahnya mencapai titik terparah di sekitar bantaran sungai. “Ada permukiman di dekat bantaran Kali CBL itu yang ketinggiannya bisa mencapai 2 meter, ya kondisinya rumah hampir habis ketutup banjir,” kata Taufik.

Menurut Taufik, banjir terjadi sejak Kamis (22/1) dan menyebabkan ribuan keluarga harus mengungsi. Ia menyebut, “Per KK itu hampir ada 3.000 kepala keluarga yang mengungsi,” dengan warga berpindah ke musala, masjid, kantor desa, rumah warga, hingga gedung umum. Proses evakuasi, kata dia, melibatkan petugas gabungan termasuk BPBD, TNI-Polri, serta pemadam kebakaran menggunakan perahu karet. 

Data BPBD Kabupaten Bekasi yang dikutip detikcom juga menunjukkan dampak banjir meluas. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi Dodi Supriadi menyampaikan terdapat puluhan ribu keluarga terdampak, dengan ribuan keluarga mengungsi di sejumlah titik. “KK terdampak 30.469 dan 2.412 KK mengungsi,” ujar Dodi. 

Di tengah sorotan publik, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai persoalan banjir di kawasan perumahan tidak bisa dilepaskan dari tata ruang dan alih fungsi lahan. Dalam unggahan yang dikutip detikProperti, Dedi menyinggung pembangunan permukiman di area tampungan air seperti sawah, rawa, hingga bantaran sungai, serta penyempitan jalur air yang membuat luapan sulit terkendali. “Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan bersikap tegas pada seluruh pengembang yang tidak memiliki tanggung jawab… dengan janji kawasannya nyaman, kawasan bebas banjir… tapi faktanya tidak sesuai dengan harapan,” ujarnya. 

Dedi juga menyebut pemerintah daerah menyiapkan langkah penanganan, mulai dari normalisasi dan pelebaran sungai hingga pembongkaran bangunan di bantaran, serta pengetatan tata ruang agar area persawahan, rawa, dan bantaran sungai tidak lagi dibuka menjadi permukiman. Ia turut mendorong wilayah padat penduduk beralih ke hunian vertikal sebagai salah satu opsi mengurangi kerentanan bencana. 

Sementara itu, di media sosial, narasi dalam video yang beredar turut menumpahkan kekecewaan warga karena merasa janji hunian nyaman dan bebas banjir tidak sesuai realitas di lapangan. 

Hingga saat ini, proses evakuasi dan penanganan darurat di sejumlah titik terdampak masih berlangsung. Warga diimbau waspada terhadap arus deras, memperhatikan informasi resmi dari otoritas setempat, serta mengutamakan keselamatan jika kondisi air kembali meningkat. 

Berita Terkait