Perspektif.co.id - Menjelang akhir tahun, Indonesia kembali diterpa bencana besar. Hujan deras yang turun tanpa henti di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengubah aliran sungai yang semula tenang menjadi arus ganas yang menyapu habis permukiman warga. Ribuan rumah terendam, jembatan putus, dan ratusan korban masih dinyatakan hilang.
Laporan CNN International mencatat, rangkaian bencana ini tidak berdiri sendiri. Curah hujan ekstrem di Sumatra dan negara-negara tetangga dipicu oleh pembentukan siklon tropis yang tidak lazim karena terjadi sangat dekat dengan garis khatulistiwa – zona yang biasanya “aman” dari badai tropis.
Ahli iklim Fredolin Tangang menjelaskan, pada akhir November tercatat tiga badai tropis aktif secara bersamaan di kawasan Asia. Fenomena ini terjadi akibat interaksi langka antara Siklon Koto dan Siklon Senyar yang kini mulai melemah, namun sudah lebih dulu memicu kerusakan luas.
“Badai-badai ini bukan yang paling kuat tahun ini, tetapi pola kemunculannya sangat tidak biasa,” ujar Tangang, profesor emeritus di Universitas Nasional Malaysia, dalam keterangan yang dikutip CNN International, Sabtu (6/12/2025).
Salah satu badai berputar di dekat khatulistiwa di lepas pantai Indonesia, di wilayah yang hampir tidak pernah menjadi jalur kelahiran siklon karena kelemahan efek Coriolis, yakni gaya putar bumi yang diperlukan untuk membentuk pusaran angin. Badai lain melintas di sekitar Sri Lanka, negara yang relatif jarang berhadapan dengan badai tropis.
Di saat bersamaan, badai ketiga muncul di penghujung musim dan menurunkan hujan sangat lebat di Vietnam dan Filipina, kawasan yang sebelumnya sudah jenuh oleh hujan dan banjir.
Kombinasi badai-badai tersebut memicu hujan ekstrem dan banjir besar di sebagian besar Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dalam sejumlah area, terjadi hari dengan curah hujan tertinggi kedua yang pernah tercatat dalam sejarah. Menurut kompilasi data badan-badan bencana yang dihimpun CNN, lebih dari 1.700 orang tewas, sementara ratusan lainnya belum ditemukan.
Banyak negara kini berjibaku memulihkan wilayah yang luluh lantak oleh banjir terparah dalam beberapa dekade terakhir. Di berbagai titik, warga diduga tersapu arus atau tertimbun lumpur dan puing bangunan yang runtuh.
Para ilmuwan mengingatkan, apa yang terjadi saat ini adalah gambaran nyata bagaimana krisis iklim membuat kejadian cuaca ekstrem yang dulu dianggap langka kini semakin sering.
“Ini tragedi kemanusiaan. Sejumlah kondisi ekstrem terjadi secara bersamaan, dan itu membuat situasinya terasa belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Tangang.
Siklon Langka di Lokasi yang Salah
Para peneliti berulang kali menegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara—termasuk Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Filipina, Vietnam, dan Malaysia—berada di garis depan dampak krisis iklim.
Bencana kali ini dipicu perpaduan sistem cuaca kuat yang saling tumpang tindih, lalu diperparah oleh pemanasan global yang didorong aktivitas manusia.
Siklon Tropis Senyar menjadi sorotan karena terbentuk di lokasi yang jarang: sekitar Selat Malaka di utara Sumatra pada akhir November 2025. Posisinya yang sangat dekat dengan khatulistiwa membuat banyak ahli menyebutnya sebagai fenomena langka yang ikut memperparah bencana, terutama karena masyarakat setempat tidak terbiasa menghadapi siklon.
Secara teori, badai tropis sulit terbentuk dekat garis ekuator karena efek Coriolis yang terlalu lemah untuk memutar angin menjadi pusaran siklon. Namun Senyar menjadi pengecualian, sekaligus alarm bahwa pola cuaca di kawasan ini tengah berubah.
Di saat yang sama, Siklon Ditwah merayap di sepanjang pesisir timur dan utara Sri Lanka, menumpahkan hujan besar ke kawasan pantai rendah dan daerah perbukitan di tengah pulau—wilayah yang juga tidak terbiasa menghadapi badai siklon.
Sebelumnya, Siklon Koto sudah lebih dulu menghantam Filipina, memicu banjir bandang dan tanah longsor, lalu melemah ketika mendekati Vietnam.
Gelombang udara dingin beberapa pekan sebelum kejadian juga mendorong angin kencang dari utara melintasi Laut Cina Selatan. Angin ini mengangkut kelembapan tinggi dan menjatuhkannya sebagai hujan deras di Thailand dan Malaysia, menambah panjang daftar wilayah yang tergenang air.
Hujan Rekor, Permukiman Tenggelam
Pada awal November, dua topan kuat dalam selang kurang dari satu pekan sudah meninggalkan jejak kehancuran di Filipina. Topan Fung-wong melintasi hampir seluruh kepulauan, disusul Kalmaegi yang menewaskan sedikitnya 200 orang sebelum menghantam Vietnam sebagai salah satu badai terkuat yang pernah terekam di negara itu.
Wilayah Vietnam bagian tengah baru saja mulai bangkit dari banjir dan longsor luas yang menewaskan setidaknya 90 orang, menenggelamkan kawasan permukiman bersejarah, serta merusak lahan pertanian secara masif.
Clare Nullis, juru bicara Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), menyebut satu stasiun meteorologi di Vietnam tengah mencatat curah hujan 24 jam mencapai 1.739 milimeter—rekor nasional baru dan menjadi angka tertinggi kedua yang pernah tercatat di dunia untuk periode sehari.
“Angka itu luar biasa besar. Itu adalah total curah hujan 24 jam tertinggi kedua yang pernah diketahui di dunia,” kata Nullis di Jenewa.
Di tengah kondisi tanah yang sudah jenuh air, datang lagi Koto, Senyar, dan Ditwah yang menambahkan volume hujan ke daerah aliran sungai yang sudah tak sanggup menampung limpahan air.
Menurut Joseph Basconcillo, spesialis cuaca senior di Badan Layanan Atmosfer, Geofisika, dan Astronomi Filipina, kombinasi badai kuat dan kondisi dasar yang sudah rapuh menjadikan efeknya berlipat ganda.
La Niña, Dipole Samudra Hindia, dan Efek Ganda Iklim
Kerumitan cuaca ini makin diperparah oleh dua fenomena iklim alamiah yang biasanya sudah cukup kuat untuk mendongkrak curah hujan, yakni La Niña dan Dipole Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) fase negatif.
Keduanya menciptakan latar belakang atmosfer yang sangat mendukung hujan di atas rata-rata. Saat kelembapan ekstrem dari kedua pola itu bertemu dengan badai tropis dan wilayah yang rentan, hasilnya adalah banjir berskala besar yang sulit dikendalikan.
Di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand selatan, banjir setinggi sekitar delapan kaki merendam jalanan. Warga menggambarkan air yang datang tiba-tiba itu layaknya tsunami yang melanda pusat kota.
Di Sumatra, Indonesia sebagai negara yang mencatat jumlah korban terbanyak, lebih dari 880 orang dilaporkan meninggal dunia. Tim penyelamat masih berusaha menembus desa-desa yang terputus akibat jalan runtuh dan jembatan hanyut.
Di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Abdul Ghani menghabiskan hari-harinya menyusuri puing dan lumpur untuk mencari istrinya yang hilang. Ia menunjukkan foto sang istri kepada siapa saja yang ditemuinya, berharap ada kabar.
“Saya hanya berharap jenazahnya bisa ditemukan, meski hanya bagian tubuhnya,” ujarnya kepada Reuters.
Krisis Iklim, Deforestasi, dan Tata Kelola yang Rapuh
Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk kawasan paling rentan terhadap dampak pemanasan global. Benua Asia tercatat menghangat hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata dunia. Suhu permukaan laut yang lebih tinggi menjadikan badai tropis lebih bertenaga, sementara atmosfer yang lebih hangat mampu menyimpan lebih banyak uap air sebelum menurunkannya dalam bentuk hujan ekstrem.
“Apa yang kita lihat di Asia Tenggara adalah siklus badai yang seolah tak ada jeda: hujan lebat berminggu-minggu dalam satu musim, dengan kejadian yang memecahkan rekor berulang kali,” ujar Davide Faranda, direktur riset di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis.
Para peneliti menegaskan, penghentian cepat penggunaan bahan bakar fosil yang memicu emisi pemanas bumi sangat krusial untuk mencegah dampak iklim yang lebih buruk. Namun di saat yang sama, dunia perlu menggelontorkan investasi jauh lebih besar untuk membantu negara-negara rentan beradaptasi dengan kondisi yang sudah berubah.
Basconcillo menekankan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki tata guna lahan, meningkatkan ketahanan infrastruktur, dan mengembangkan solusi berbasis alam—seperti pemulihan hutan dan kawasan basah—untuk meredam risiko banjir dan longsor.
Faktor lain yang diyakini memperparah kondisi lapangan adalah kerusakan lingkungan dan lemahnya tata kelola.
Di Indonesia, warga dan pejabat daerah sama-sama menuding deforestasi selama puluhan tahun akibat penebangan liar, aktivitas pertambangan, dan ekspansi perkebunan kelapa sawit telah mengikis daya dukung lereng-lereng bukit di Sumatra. Lahan yang gundul menjadikan wilayah tersebut lebih mudah longsor dan tak mampu menahan limpasan air dalam volume besar.
Di Filipina, ratusan ribu orang turun ke jalan memprotes dugaan korupsi dalam proyek-proyek pengendalian banjir. Mereka menilai, tata kelola yang buruk menghambat pembangunan infrastruktur pengaman yang seharusnya melindungi warga dari bencana berulang.
Sementara Sri Lanka baru mulai bangkit dari krisis keuangan terburuk dalam tujuh dekade. Kondisi fiskal yang sempit menyisakan ruang sangat terbatas bagi negara tersebut untuk membiayai proyek infrastruktur dan layanan kesehatan masyarakat yang penting dalam menghadapi bencana hidrometeorologi skala besar, sebagaimana dicatat Bank Dunia.
Deretan faktor alam dan nonalam yang saling bertumpuk ini menjadikan banjir dan longsor di Sumatra, Filipina, Vietnam, Sri Lanka, dan negara-negara tetangga bukan sekadar bencana musiman, tetapi peringatan keras tentang masa depan kawasan apabila krisis iklim dan kerusakan lingkungan terus dibiarkan tanpa penanganan serius.