JAKARTA, Perspektif.co.id - Pola kemacetan di Jakarta mengalami pergeseran selama Ramadan. Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya mencatat puncak kepadatan tidak lagi setajam hari biasa pada jam-jam “klasik” pagi dan sore, melainkan bergeser seiring perubahan ritme aktivitas warga—terutama karena jam masuk kantor yang lebih siang serta jam pulang yang lebih cepat.
Pantauan arus kendaraan pada Jumat (27/2/2026) memperlihatkan lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman arah Senayan terpantau padat. Dalam periode Ramadan, polisi menilai perubahan jam kerja membuat kepadatan pagi hari cenderung mundur, sedangkan kepadatan sore justru datang lebih awal.
Ditlantas Polda Metro Jaya menyebut kemacetan pagi diperkirakan bergeser ke rentang pukul 09.00–10.00 WIB, dipengaruhi kelonggaran jam masuk kerja. Sementara itu, kepadatan sore diprediksi lebih cepat, yakni sekitar pukul 14.00–15.00 WIB, seiring banyaknya warga mulai bergerak lebih awal menjelang waktu berbuka puasa dan aktivitas selepas kerja.
Kepala Bagian Pembinaan Operasional Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Robby Hefados mengatakan hasil pemantauan memperlihatkan warga cenderung memulai aktivitas kerja lebih siang pada Ramadan. “Pagi hari, masyarakat cenderung lebih siang, dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 10.00 WIB, masyarakat baru menuju ke kantornya masing-masing,” kata Robby dalam keterangannya.
Di sisi lain, ia menyebut kepadatan sore hari muncul lebih dini karena warga mengejar waktu untuk berbuka dan melanjutkan aktivitas ibadah. “Mungkin karena masyarakat kita berupaya untuk mengejar waktu, supaya bisa buka puasa di rumah dan melaksanakan ibadah salat tarawih,” ujarnya.
Sejalan dengan perubahan pola itu, kepolisian menyatakan sudah memetakan titik-titik yang berpotensi menimbulkan kepadatan selama Ramadan, bukan hanya pada ruas jalan utama, tetapi juga kawasan yang ramai aktivitas jelang berbuka seperti lokasi penjualan takjil dan titik kerumunan temporer lainnya. Penyesuaian rekayasa dan pengaturan arus disebut akan dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan pada jam-jam tertentu.
Pada pantauan sekitar pukul 16.30 WIB, arus lalu lintas di Sudirman masih terlihat padat, menunjukkan bahwa pergeseran jam puncak tidak selalu berarti kemacetan menghilang, melainkan berubah pola sesuai ritme mobilitas harian warga selama Ramadan. Situasi ini juga membuat pengaturan personel dan respons penguraian kepadatan perlu lebih adaptif, terutama menjelang jam pulang dan mendekati waktu berbuka.
Robby menekankan, pihaknya berupaya memaksimalkan pengaturan agar mobilitas warga tetap lancar meski volume kendaraan meningkat pada jam tertentu. “Ya, mudah-mudahan kegiatan masyarakat bisa kita lancarkan, bisa tetap kita maksimalkan supaya masyarakat bisa dapat cepat ataupun segera kembali ataupun menuju ke tempat tujuan yang diinginkan,” ungkapnya.
Ditlantas Polda Metro Jaya juga mengingatkan aspek keselamatan tetap menjadi prioritas. Polisi mengimbau pengendara tidak mengambil langkah berbahaya demi mengejar takjil atau menghemat waktu, seperti melawan arus. “Karena ingin membeli takjil, lalu melawan arus. Ini tentunya membahayakan, bukan membahayakan diri sendiri, tetapi juga membahayakan pengendara lain,” tutur Robby.