25 December 2025, 01:45

Jogja Diprediksi “Numpuk” Saat Nataru, Komisi V DPR Minta Warga Alihkan Liburan: “Ditunda Aja ke Jogja”

mengimbau masyarakat tidak memusatkan pilihan wisata hanya ke satu destinasi pada libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru)

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,771
Jogja Diprediksi “Numpuk” Saat Nataru, Komisi V DPR Minta Warga Alihkan Liburan: “Ditunda Aja ke Jogja”
Foto: Syaiful Huda. (Dwi/detikcom).

Perspektif.co.id - Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda mengimbau masyarakat tidak memusatkan pilihan wisata hanya ke satu destinasi pada libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), menyusul prediksi lonjakan wisatawan ke Yogyakarta yang berpotensi memicu kepadatan perjalanan dan kemacetan di titik-titik utama. Huda menyebut tren pemesanan perjalanan sudah mengarah kuat ke Jogja berdasarkan pantauannya di berbagai kanal perjalanan.

“Iya, saya sudah cek juga, informasi ini valid. Artinya itu sudah dicek dari semua situs perjalanan, mulai penjualan tiket memang mengarah semua ke Jogja,” kata Huda kepada wartawan, Rabu (24/12/2025). 

Dengan prediksi arus yang menumpuk, Huda menyarankan sebagian calon pelancong mempertimbangkan opsi kota lain agar beban perjalanan dan kepadatan di Jogja tidak semakin berat. Menurutnya, banyak daerah lain yang tak kalah menarik, sementara risiko “overcrowding” di Jogja pada puncak libur akhir tahun dinilai bisa mengganggu kenyamanan dan keselamatan perjalanan.

“Saya kira ini perlu jadi pertimbangan… untuk saya kira ditunda aja ke Jogja. Saya kira bisa mengambil opsi di kota-kota lain yang tidak kalah dengan Jogja,” ujarnya. 

Ia menilai sinyal kepadatan ini sudah menjadi “public aware”. Huda mengaku menerima banyak cerita dari masyarakat yang akhirnya membatalkan rencana ke Jogja karena khawatir situasi terlalu padat. “Karena sudah begitu sangat numpuk memang,” ucapnya, sembari mendorong publik lain mengambil keputusan serupa: menunda atau mengalihkan perjalanan ke wilayah dengan potensi kepadatan yang lebih rendah. 

Huda juga mengingatkan besarnya pergerakan orang pada periode Nataru tahun ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi sistem transportasi. Ia menyebut potensi mobilitas Nataru mencapai sekitar 119 juta orang, sehingga penjadwalan perjalanan dinilai krusial untuk mengurangi kepadatan di jalan maupun simpul transportasi.

“Barusan saya cek potensinya memang kayaknya bukan malam ini. Kira-kira masih sebagian. Jadi saya setuju memang dari 119 juta orang yang kemungkinan akan melakukan perjalanan Nataru ini, saya kira memang perlu diatur,” ujar Huda. 

Angka mobilitas itu juga sejalan dengan rilis Kementerian Perhubungan yang menyebut hasil survei menunjukkan sekitar 42,01 persen penduduk Indonesia—sekitar 119,5 juta orang—berpotensi melakukan perjalanan pada masa libur Nataru 2025/2026. 

Secara khusus, Huda mengimbau ASN dan pegawai BUMN tidak mengambil perjalanan tepat di puncak arus karena mereka dinilai memiliki fleksibilitas waktu, menyusul kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang memberikan kelonggaran bekerja dari lokasi mana saja selama periode liburan. Menurut Huda, jika kelompok ini melakukan penjadwalan perjalanan yang lebih rapi—tidak berbarengan pada malam puncak—beban kemacetan bisa berkurang.

“Saya kira kita bisa mengimbau kepada teman-teman PNS dan pegawai BUMN, untuk tidak melakukan perjalanan di high season ini, terutama malam sampai besok, malam ini atau besok malam,” katanya. 

Di luar faktor volume perjalanan, Huda juga meminta masyarakat menaruh perhatian pada cuaca. Ia mengingatkan peringatan BMKG mengenai potensi hujan lebat pada akhir tahun yang bisa memicu banjir dan longsor, sehingga warga perlu menyesuaikan waktu keberangkatan dan rute perjalanan. 

“Saya kira ini juga harus menjadi pertimbangan betul… karena misalnya update terakhir ada banjir yang cukup lumayan besar di Cirebon,” ucap Huda, mencontohkan kondisi banjir sebagai variabel risiko yang dapat mengacaukan jadwal perjalanan bila tidak diantisipasi. 

Sinyal kepadatan di Yogyakarta juga tercermin dari proyeksi pemerintah daerah. Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta sebelumnya memperkirakan sekitar tujuh juta orang akan masuk ke Kota Yogyakarta selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Angka itu merupakan bagian dari pergerakan orang dengan tujuan ke DIY yang diperkirakan mencapai 9,38 juta orang. 

Kepala Dishub Kota Yogyakarta Agus Arif Nugroho menjelaskan pergerakan masyarakat diperkirakan didominasi pengguna kendaraan pribadi sekitar 3,86 juta orang, sementara 3,16 juta orang lainnya menggunakan angkutan umum. Dishub juga memprediksi kenaikan volume lalu lintas rata-rata mencapai 20 persen dibanding lalu lintas harian rata-rata selama masa libur Nataru 2025/2026. 

Berita Terkait