06 March 2026, 17:31

Luhut Minta RI Jangan Ikut-ikutan Musuhi Iran, Tegaskan Politik Bebas Aktif

Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan pemerintah Indonesia agar tidak ikut-ikutan memusuhi Iran di tengah memanasnya konflik Timur Tengah

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Zainur Akbar
387
Luhut Minta RI Jangan Ikut-ikutan Musuhi Iran, Tegaskan Politik Bebas Aktif
Luhut menekankan posisi Indonesia sebagai negara non-blok membuat pemerintah tidak boleh ikut memusuhi pihak mana pun, termasuk dengan Iran. Doc : Istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id -  Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan pemerintah Indonesia agar tidak ikut-ikutan memusuhi Iran di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Luhut menilai Indonesia perlu menyusun kebijakan luar negeri secara hati-hati dengan mempertimbangkan kekuatan Iran, seraya menegaskan bahwa sikap ikut bermusuhan tidak memberi manfaat bagi kepentingan nasional.

Pernyataan itu disampaikan Luhut melalui unggahan di akun Instagram resminya, @luhut.pandjaitan, pada Jumat (6/3/2026). Dalam pernyataannya, ia menekankan Indonesia harus membaca peta kekuatan di kawasan sebelum mengambil langkah diplomatik apa pun, “Dalam menyusun foreign policy (kebijakan luar negeri) kita, memang kita harus melihat faktor ini, faktor kekuatan mereka (Iran). Kita jangan jadi ikut musuhan sama dia. Enggak ada gunanya,” kata Luhut.

Luhut kemudian menegaskan posisi Indonesia sebagai negara non-blok seharusnya membuat pemerintah tidak menyeret Indonesia ke permusuhan dengan pihak mana pun. Ia menyebut prinsip tersebut semakin relevan ketika konflik global memunculkan tarik-menarik kepentingan kekuatan besar, “Di tengah tarik-menarik kepentingan kekuatan besar, prinsip politik luar negeri Bebas Aktif harus terus menjadi pedoman yang paling relevan bagi bangsa ini,” ujarnya.

Di saat yang sama, Luhut juga mengingatkan bahwa Indonesia pun tidak berada dalam posisi untuk memusuhi AS atau negara mana pun. Ia menilai sejumlah negara besar lain yang berada di luar konflik tetapi ikut terdampak, seperti Rusia dan China, juga tidak bisa dijadikan lawan. Menurut dia, ruang gerak Indonesia harus dijaga agar tetap fleksibel untuk bermitra sekaligus mempertahankan hubungan baik dengan berbagai pihak, “Indonesia tidak dalam posisi untuk memihak negara manapun. Bermitra dan membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan negara-negara maju ataupun menghormati hubungan persahabatan dengan negara-negara berkembang, dan juga negara muslim seperti Iran, adalah prinsip yang diamanatkan oleh para founding fathers untuk kami jaga dan laksanakan,” ucapnya.

Luhut menambahkan bahwa menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional tidak hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Ia menekankan diplomasi Indonesia harus dijalankan secara luwes, proaktif, dan berorientasi pada penguatan ketahanan domestik, terutama ketika perang global berpotensi menekan stabilitas ekonomi dan sosial.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak terseret pada cara pandang ekstrem yang bisa memecah persatuan di dalam negeri. Menurutnya, dukungan publik penting agar pemerintah bisa mengambil kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas nasional, termasuk terkait ketahanan energi, pangan, dan keamanan. Luhut menutup pesannya dengan penekanan agar masyarakat tidak terpancing emosi, “Jangan ada yang berpikiran ekstrem ke sana ke sini. Kita harus mendukung pemerintah supaya pemerintah bisa mengambil kebijakan-kebijakan yang proaktif untuk menjaga ketahanan energi kita maupun pangan dan keamanan dalam negeri kita juga,” pungkasnya.

Berita Terkait