04 December 2025, 06:15

Memahami Melemahnya Pengaruh Muhammadiyah

Muhammadiyah di Indonesia belakangan ini kesulitan mempertahankan jumlah anggotanya.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Deden M Rojani
2,407
Memahami Melemahnya Pengaruh Muhammadiyah
Credit: Unsplash/Dario Daniel Silva

Muhammadiyah dalam Era Postmodernisme

Muhammadiyah, yang berdiri pada 1912 dengan semangat modernisasi Islam dan pemurnian ajaran Islam. Muhammadiyah sejak awal hadir sebagai proyek pembaruan yang menentang kolonialisme Belanda, sekaligus praktik keagamaan yang dianggap tidak rasional seperti takhayul, bid’ah, dan khurafat, yang populer disebut “TBC” dalam percakapan sehari-hari.

Perkembangan pesat Muhammadiyah di awal berdirinya dan juga wacana segar di awal berdirinya yakni “modernitas dan pemurnian ajaran Islam” membuat Muhammadiyah berdiri seperti mercusur keislaman modern: tegak, tajam, dan penuh keyakinan. Wajar bila setelah berdirinya Muhammadiyah memperoleh banyak dukungan dan anggota, sehingga membuatnya menjadi salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia.

Selama puluhan tahun, Muhammadiyah tumbuh menjadi raksasa civil society Indonesia. Namun kini, angka-angka yang sunyi tetapi jujur menampakkan kenyataan lain.

Sebuah survei yang dilakukan pada 2023 oleh LingkaranSurvei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan bahwa jumlahorang yang “menyebut dirinya warga Muhammadiyah”menurun drastis. Survei yang sama pada 2005 menunjukkan9,4% responden mengaku berafiliasi sebagai wargaMuhammadiyah, tetapi angka ini turun menjadi 7,8% pada 2014 dan kemudian 5,7% pada 2023.

Sementara itu dalam survei LSI Denny JA di rentang tahunyang sama; Nahdlatul Ulama, ormas Islam terbesar di Indonesia. Sebuah organisasi yang dulu dianggap tradisionalisjustru berkembang dratis dari 27,5% menjadi 56,9% dalamkurun yang sama.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah detak pelanperubahan zaman di mana Muhammadiyah harus bercerminpada dirinya sendiri.

Tulisan ini berupaya menjelaskan merosotnya pengaruhMuhammadiyah dengan menyoroti dua fondasi utamanya(raison d’etre): modernisme Islam dan pemurnian ajaranIslam.

Tulisan ini mencoba menjelaskan penurunan Muhammadiyah dengan menyoroti persoalan-persoalan yang mempengaruhidua prinsip utama organisasi tersebut.

Tidak Lagi Cukup Modern?

Pilar kemodernan Islam Muhammadiyah yang telah lama dipegang tampaknya semakin tidak selaras dengan iklimintelektual dan sosio-religius Indonesia saat ini. Dulu wacanamodernitas merupakan wacana menarik bagi kaum terdidikpra-Reformasi karena pendekatannya yang dianggap rasionaldan sangat menekankan kemurnian agama dengan berbasisteks-teks otoritatif agama. Kini kerangka modernisMuhammadiyah kini menghadapi kritik dan tantanganepistemis dari pemikiran postmodern dan postkolonial yang mengungkap asumsi-asumsi modernitas yang pada dasarnyaberpusat pada Barat dan eksklusif serta “bias kolonial.” Cara pandang modernisme sendiri sudah semakindipertanyakan di negara-negara Barat sendiri, tempat asalmodernisme berasal. Apalagi di negara-negara berkembangyang kita sebut kini sebagai “Global South.”

Perubahan wacana intelektual dari modernisme keposmodernisme kini telah membentuk ulang wacana Islam global. Posmodernisme Islam kini telah menggantikanmodernisme Islam dan Islamisme yang mulai digantikan oleh post-Islamisme: sebuah wacana yang menekankan pluralisme, refleksivitas, dan hak-hak individual.

Di Indonesia, tren ini mengangkat Nahdlatul Ulama, yang dulu dianggap tradisionalis dan hanya menang secara basis massa serta dianggap gagap ketika berbicara soalmodernisme. Kini NU menjadi organisasi yang lincah secaraintelektual dalam menghadapi isu-isu posmodernisme. Di bawah Abdurrahman Wahid, banyak pemuda NU dikirimuntuk belajar di Barat dan kembali dengan pola pikir kritis.

Para intelektual NU tersebut dipengaruhi oleh berbagaipemikiran mutakhir seperti hermeneutika feminis, dekonstruksi, posmodernisme, post-islamisme teori post-kolonialisme, dan ekoteologi, yang kini membentuk wacanadominan Islam Indonesia. NU hadir bukan saja besar mulaidari gender hingga keadilan lingkungan. NU kini menangsecara basis massa dan juga dalam menguasai wacanakeislaman di publik. Walhasil NU bukan lagi sebagaikelompok tradisionalisme Islam, melainkan post-tradisionalisme Islam.

Sementara itu, Muhammadiyah tetap berpegang pada paradigma modernis-rasionalis abad 20 yang semakin sulitmenginspirasi generasi baru. Sebab landasan berpikirmodernitas yang berlandaskan pada oposisi-biner, sertapandangan dunia (world view) modernisme sudah banyakdikritisi serta didekonstruksi baik secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis oleh banyak pemikir dan filsufposmodernis. Sehingga modernisme, bukan lagi menjadikajian serta wacana intelektual yang seksi di dunia akademik.

Meski kuat secara kelembagaan di bidang pendidikan dan kesehatan, relevansi ideologis Muhammadiyah semakinmemudar.

Munculnya kerangka post-Islamist dan post-traditionalist juga membuka jalan bagi aktor lain untuk memimpin dalammembentuk lanskap keagamaan Indonesia, semakinmeminggirkan Muhammadiyah.

Di tingkat akar rumput, masyarakat pun kesulitan memahamikomitmen Muhammadiyah terhadap modernitas karenakecenderungannya melihat masalah kompleks melaluiperspektif yang satu dimensi.

Contoh yang sering disebut adalah kegaduhan tentang sikapMuhammadiyah terhadap rokok dan air mineral, yang mencerminkan posisi organisasi yang dipertanyakan.

Banyak pengikut Muhammadiyah adalah pemilik warungkelontong dan toko sembako, tempat rokok dan air mineral dalam kemasan dijual bebas. Banyak orang Indonesia merokok, dan sebagai negara tropis, masyarakat sangat bergantung pada air mineral kemasan ketika cuaca panas. Artinya, pemilik toko yang berafiliasi Muhammadiyah mendapatkan banyak keuntungan dari penjualan dua komoditas ini.

Namun, fatwa Muhammadiyah mengenai kedua barangtersebut tampak mengabaikan realitas ekonomi anggotanya. Pada 2010, Muhammadiyah mengeluarkan fatwa yang menyatakan rokok haram, menyebutnya tidak sehat dan pemborosan. Fatwa ini mengesampingkan ketergantunganekonomi petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik rokokserta asbak, karyawan perusahaan rokok, SPG rokok, dan distributor.

Fatwa tersebut menimbulkan konflik batin bagi anggotaMuhammadiyah yang merokok, membuat merekamempertanyakan tidak hanya fatwa tetapi juga organisasi. Bahkan kader Muhammadiyah yang sudah lama pun banyakyang mengabaikan fatwa ini dan tetap merokok, sehinggamemperumit hubungan mereka dengan organisasi.

Pada 2014 mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin tampaknya menentang apa yang ia sebut sebagaieksploitasi monopolistik atas sumber air oleh perusahaanswasta dan asing yang memproduksi air mineral kemasan di Indonesia. Dengan alasan bahwa air adalah sumber daya alamyang semestinya dikelola oleh negara untuk hajat hidup orang banyak sesuai dengan amanat UUD 1945. Din bahkanmendorong organisasi Muhammadiyah mengeluarkan fatwa agar mengharamkan produk tersebut. Walaupun faktanya iasendiri masih minum air mineral.

Namun langkah drastis ini berdampak negatif pada ribuanbahkan jutaan orang serta bisnis yang terlibat dalam ekosistemproduk tersebut. Bagi pedagang kaki lima atau warung, tidakpenting apakah produsennya asing atau lokal selama merekabisa bertahan hidup.

Jika fatwa semacam itu dikeluarkan, hal ini menempatkanpemilik usaha, penjual, dan konsumen, termasuk pengikutMuhammadiyah dalam posisi sulit, karena menjual dan mengonsumsi air mineral kemasan dianggap dosa.

Dua episode ini menunjukkan bahwa meskipunMuhammadiyah mempromosikan prinsip modernitas, organisasi ini juga terlibat dalam kontroversi yang mempertanyakan kedalaman pemahaman mereka terhadapkonsep modernitas maupun akar intelektualnya. Akibatnya, baik pengikut Muhammadiyah maupun publik menjadi tidakyakin terhadap organisasi ini.

Kurangnya Gairah Gerakan

Kedua, selama dalam perjalanan sejarahnya Muhammadiyah memiliki misi suci (mission sacre) untuk memurnikan praktekkeberislaman di Indonesia dari pengaruh TBC. Selama dalamlintasan sejarah, Muhammadiyah mendapatkan reaksi yang tidak kalah keras atas upayanya terutama dari kalangan Islam tradisionalis yang masih mempertahankan praktekkeberagamaan yang dianggap TBC.

Belakangan terjadi pergerseran paradigma dalam tubuhMuhammadiyah. Sekarang Muhammadiyah sudah mulaimengalami moderasi serta kehilangan gairah (missionary zeal) untuk memberantas pengaruh TBC. Walhasil Muhammadiyah yang semula hadir secara raison d’etre untuk memurnikanajaran Islam dari praktek TBC kini melunak dan tidak lagimenjadi fokus utama. Orientasi organisasi kini beralih pada pelayanan sosial seperti pengelolaan rumah sakit, sekolah, universitas, panti asuhan, dan lembaga wakaf.

Ini menunjukkan perubahan pandangan dunia (worldview)Muhammadiyah. Muhammadiyah masih secara resmi di internal organisasinya hingga institusi pendidikannya masihmengajarkan bahwa cabang praktek-praktek peribadatan(furu’iyah) yang seperti qunut, tahlil, tawasul, barzanji, sebagai praktek TBC. Dalam hal ini Muhammadiyah masihberbagi pandangan tentang hal apa yang disebut sebagaipraktek TBC dengan organisasi Islam modernis lain sepertiAl-Irsyad dan Persatuan Islam (Persis). Tetapi juga tidaksecara terbuka menentang kelompok Islam tradisional yang masih mempraktikkannya, seperti qunut, tahlil, tawasul, maulid, barzanji, dan tabarruk.

Kini Muhammadiyah memilih untuk hidup berdampingandengan seluruh komunitas Islam, dan bahkan menghindaripelabelan sesat terhadap para pelaku TBC. Kurang lebihsikapnya dapat diringkas begini: “Kami memahami bahwatahlilan, qunut, tawasul, dan praktik sejenisnya termasukTBC. Namun kami tidak mengafirkan atau menyesatkan siapapun yang melakukannya. Silakan, monggo, kami hanyamemilih tidak ikut.”

Sikap yang lebih lunak dan tidak lagi konfrontatif terhadappraktik-praktik TBC ini perlahan membuat Muhammadiyah kehilangan “daya pikat” bagi kalangan yang masih tertarikpada isu pemurnian agama. Kekosongan itulah yang kemudian diisi oleh gerakan-gerakan Islam transnasional. Kelompok-kelompok ini berasal dari luar negeri—terutamaTimur Tengah—tetapi telah menemukan pijakan yang kokohdi tengah sebagian umat Islam Indonesia. Di antaranya adalahWahhabi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir Indonesia (yang kini dibubarkan namun pernah berpengaruh besar), hinggajaringan Salafi-jihadi seperti Al-Qaeda dan ISIS.

Gerakan-gerakan tersebut bergerak dengan gairah keagamaanyang menyala (divine fervor) dan semangat dakwah yang menggebu (missionary zeal), sebuah tenaga ideologis yang membuat mereka lebih militan dalam agenda pemurnianIslam, khususnya terhadap praktek-praktek yang merekaanggap sebagai TBC. Mereka tampil jauh lebih tegas dan meyakinkan, ketimbang Muhammadiyah yang kini lebih hati-hati dan kurang berfokus pada isu ini. Hal ini membuatkelompok-kelompok Islam transnasional tampil sebagaipewaris baru semangat pemurnian Islam yang dahulu menjadiciri khas gerakan modernisme Islam di Indonesia.

Melemahnya dorongan Muhammadiyah untuk memimpinagenda pemurnian Islam kemudian memberi ruang luas bagikelompok-kelompok Islam transnasional untuk menyebarkanajaran dan pengaruhnya. Dinamika ini akan dibahas lebih jauhpada bagian berikutnya.

Pengaruh yang Tenggelam

Sementara itu, kelompok Islam transnasional giat menentangdan memerangi praktik TBC, mengkritiknya secara militandengan penuh gairah dakwah melalui media sosial dan kajian. Dari interaksi penulis dengan para simpatisanMuhammadiyah, semangat kelompok Islam transnasional itupun turut memikat mereka. Terlihat di berbagai tempat di Indonesia kelompok Islam transnasional itu disambut oleh tangan terbuka, terutama oleh kalangan akar rumput(grassroot) dan fungsionaris Muhammadiyah karenakesamaan ajaran. Hal ini dapat dipahami, karena kesamaanajaran teologis antara Muhammadiyah dengan kelompokIslam transnasional ini yang sama-sama memerangi TBC, halini turut memikat simpatisan Muhammadiyah.

Sehingga tidak sedikit orang-orang Muhammadiyah yang turut membaca karya-karya pemikiran Islam transnasional, bahkan mendengar dakwah para pendakwah dari kelompok-kelompok Islam transnasional. Terlebih lagi beberapa darimereka, mulai merasa organisasi Muhammadiyah kinimenjauh dari agenda pemurnian Islam.

Ketika dulu Muhammadiyah mendominasi agenda ini, kinikelompok-kelompok transnasional menjadi wajah utamanya, sehingga mengurangi daya tarik Muhammadiyah. Bagi orang awam yang tidak mendalami Islamologi, tentunya sulit sekalimembedakan antara simpatisan Muhammadiyah dengankelompok Islam transnasional.

Hal yang menjadikan kelompok Islam transnasional dianggapmemiliki legitimasi dan dianggap lebih berhak memimpinagenda ini. Karena berasal dari Timur Tengah, Islam merekadianggap lebih murni, otentik, dan militan. Dibandingkan itu, ajaran Muhammadiyah telah yang telah disesuaikan agar sesuai kondisi sosial Indonesia, membuat klaim otentisitasnyalebih lemah.

Semua ini diperkuat oleh dukungan negara kaya minyak(petrodollar) dari Timur Tengah; khususnya Arab Saudi dan Qatar, serta donor simpatisan di kawasan. Meskipunbelakangan Arab Saudi telah kehilangan gairah dalammenyebarkan ajaran Wahhabisme ke seluruh dunia dan lebihberhati-hati akhir-akhir ini, setelah adanya Reformasi Pangeran Muhammad bin Salman. Namun tidak menutupfakta bahwa selama puluhan tahun Arab Saudi berperan besarmenyebarkan ajaran Wahhabi dan jaringan dana dari sanatetap besar. Sekarang peran tersebut lebih dimainkan oleh Qatar yang masih menjadi “patron” terutama bagi gerakanIkhwanul Muslimin di dunia.

Adanya jaringan ke luar negeri ini sangat memikat banyakorang yang tertarik untuk menjadi aktivis gerakan Islam transnasional. Para aktivis gerakan-gerakan ini juga dibinamelalui beasiswa studi ke Timur Tengah, yang menjadi dayatarik besar. Tidak ada ideologi yang dapat berkembang cepattanpa dana dan jaringan yang kuat. Intinya logika tanpalogistik, anarkis. Sebab kita tahu umat manusia lebih takutlapar dari mati, makanya ada istilah: “pasukan berani mati, takut lapar.”

Bangkitnya kelompok-kelompok ini lebih mengancamMuhammadiyah daripada NU. NU memiliki perbedaanhukum dan praktik yang tajam, sehingga pengikutnyacenderung menolak ajaran kelompok transnasional. Sebaliknya, Muhammadiyah berbagi akar teologis, sehinggalebih mudah bagi kelompok tersebut menjangkau pengikutMuhammadiyah.

Hal ini memicu perlawanan dari dalam Muhammadiyah sendiri. Kekhawatiran muncul lantaran masjid-masjid dan basis massa Muhammadiyah diambil alih kelompoktransnasional. Barulah Muhammadiyah mulai sadar dan mulaimelawan pengaruh kelompok Islam transnasional, sudahmulai ada tulisan hingga video ceramah di Youtube yang melawan pengaruh kelompok Islam transnasional di tubuhMuhammadiyah, sayangnya semua sudah terlambat. Kekhawatiran akan direbutnya basis massa Muhammadiyah oleh kelompok Islam transnasional diperkuat oleh Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) sebuahpartai politik yang secara historis dianggap berafiliasi secarakultural dengan Muhammadiyah. Zulkifli Hasan dalamsebuah pernyataan yang penulis kutip dari Kompas.com, tertanggal 5 Februari 2018:

“Kenapa maghrib sama subuh di Masjid? Kalau maghrib samasubuh nggak di masjid, orang-orang di Masjid nanti suaranyadiambil PKS semua” katanya di hadapan kadernya di gedungKartini, Kota Malang.

Hari Raya Indonesia atau Hari Raya Muhammadiyah?

Menurunnya jumlah massa Muhammadiyah, disadari atautidak, turut dipengaruhi oleh seringnya organisasi ini berbedadengan pemerintah dalam penetapan awal Ramadan, IdulFitri, dan Idul Adha. Hal ini menimbulkan dilema khusus bagiwarga Muhammadiyah yang bekerja sebagai PNS, guru, dosen, maupun pejabat birokrasi; kalangan yang sejak masa Orde Lama hingga Orde Baru memang menjadi basis sosialutama Muhammadiyah. Setiap kali terjadi perbedaan tanggal, mereka dihadapkan pada pilihan yang tidak nyaman: mengikuti ketentuan pemerintah sebagai institusi tempatmereka bekerja, atau mengikuti organisasi tempat merekabernaung secara ideologis.

Sedikit sekali masyarakat memahami alasan teologis dan metodologis di balik perbedaan ini, sehingga perbedaantersebut kerap dipersepsikan sekadar sebagai “keanehan” Muhammadiyah.

Dalam soal penetapan hari raya, perbedaan utamaMuhammadiyah dengan kelompok Islam transnasionalterutama kelompok Salafi, justru sangat tajam. Salafi meyakini bahwa rukyatul hilal dengan mata telanjang adalahmetode paling sahih karena dicontohkan Rasulullah SAW dan para Sahabat. Penggunaan teleskop baru diterima pada abadke-20 sebagai alat bantu, namun tetap dianggap sekunderdibanding penglihatan langsung. Paradoksnya, dalam hal inipandangan Salafi beririsan dengan Syi’ah, yang juga menekankan rukyat mata telanjang; hanya saja Syi’ah barumenerima penggunaan teleskop secara umum setelah fatwa Imam Khomeini pasca-Revolusi 1979.

Bagi kalangan Salafi, hisab adalah bid’ah karena tidakdilakukan pada masa Nabi. Selain itu, mereka menilai bahwapenetapan hari raya adalah hak ulil amri; sehingga umat wajibmengikuti pemerintah apa pun metode yang digunakan. Karena hampir semua negara Muslim kini memakai HisabImkanur Rukyat—gabungan hisab dan rukyat yang merupakan jalan tengah antara hisab dan rukyat—Salafi menerima hal itu selama keputusan datang dari otoritasnegara.

Di titik inilah terlihat paradoks yang lebih dalam: Muhammadiyah sebagai organisasi yang lebih dari satu abadmenjadikan pemberantasan bid’ah sebagai misi sucinya(mission sacre) justru dianggap sebagai pelaku bid’ah terbesaroleh kelompok-kelompok transnasional. Bagi mereka, penggunaan hisab murni (hisab haqiqi wujudul hilal) adalahinovasi keagamaan yang sama sekali tidak memiliki presedenpada masa Nabi dan para Sahabat. Ironinya, metode inilahyang membedakan Muhammadiyah secara fundamental dariseluruh arus purifikasi Islam lain di dunia Muslim.

Perbedaan ini menjadi garis pemisah paling mendasar antaraMuhammadiyah dan mayoritas arus Islam lainnya. HizbutTahrir, misalnya, meski menolak negara dan menyerukankhilafah, tetap bersikap bahwa umat tidak boleh berbedatanggal demi persatuan. Ikhwanul Muslimin yang memilikipartai politik seperti PKS cenderung mengikuti pemerintahdemi stabilitas politik. Bahkan Ahmadiyah—golongan yang ditolak banyak kelompok—setuju dengan Salafi dalam halketaatan kepada ulil amri dan keharusan rukyatul hilal.

Akhirnya, perdebatan hisab versus rukyat justru menyatukankelompok-kelompok yang biasanya saling bertentangan: NU, Persis, Al-Irsyad, Nahdlatul Wathan, Al-Washliyah, Mathla’ulAnwar, Al-Khairaat, LDII, Salafi, Ikhwanul Muslimin, HizbutTahrir, Syi’ah, hingga Ahmadiyah, hal ini menjadikanMuhammadiyah “sendirian” dengan metode hisab murninya. Tak ada satu pun negara Muslim yang memakai hisab haqiqiwujudul hilal seperti Muhammadiyah; perdebatan serius soalini pun hanya terjadi di Indonesia.

Pemerintah RI sendiri menggunakan metode hisab imkanurrukyat, yang kini disepakati juga oleh forum MABIMS (Brunei, Malaysia, Indonesia, Singapura). Dalam metode ini, hisab dan teropong berfungsi sebagai alat bantu, sementarapenetapan final tetap melalui pengamatan hilal. Sebaliknya, Muhammadiyah memakai hisab haqiqi wujudul hilal, yaitumetode astronomi murni tanpa memerlukan konfirmasirukyat.

Akibat perbedaan ini, banyak warga Muhammadiyah—terutama PNS dan kelompok yang masih memegang agenda pemurnian Islam—akhirnya berpindah ke kelompok Islam transnasional yang mengikuti keputusan pemerintah dalampenetapan hari raya. Keunggulan kelompok-kelompok inidalam menyerukan ketaatan kepada ulil amri, terutama di kalangan Salafi, menjadi daya tarik tambahan bagi wargaMuhammadiyah yang bekerja sebagai PNS. Tidak sedikitmantan warga Muhammadiyah yang kemudian beralihmenjadi Salafi atau kelompok modernis transnasional lainnya.

Sementara itu mayoritas Muslim yang tidak terafiliasi denganormas apa pun, sering disebut non-denominational Muslimatau ghairi mazhab—secara alami mengikuti pemerintah dan tidak tertarik memperdebatkan soal ini. Begitu pula kelompokIslam abangan ataupun Islam KTP, kebanyakan generasimilenial, Gen-Z, hingga Gen-Alpha yang tidak akrab denganisu hisab dan rukyat; bagi mereka, Muhammadiyah tampaksebagai organisasi yang “berbeda sendiri”, sehingga tidak lagimenjadi pilihan identitas keagamaan yang menarik.

Realitas Lapangan

Terakhir, Muhammadiyah juga memiliki masalah kaderisasi.

Meski memiliki jaringan sekolah dan universitas yang luas, tidak semua alumninya otomatis menjadi kader atau anggotainti Muhammadiyah. Beberapa tidak menjadi anggota, dan sebagian justru pindah ke NU.

Mahasiswa dari keluarga Muhammadiyah atau lulusansekolah Muhammadiyah sering bergabung dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK), di mana para murobbi sering kali berasal dari Ikhwanul Muslimin. Karena akar teologisMuhammadiyah dan Ikhwanul Muslimin mirip, perpindahanideologis ini menjadi lebih mudah.

Muhammadiyah juga tertinggal di ruang digital. Dalam dakwah media sosial, upayanya tidak sophisticated dibandingorganisasi lain. NU dan kelompok transnasional memilikibanyak pendakwah online populer, sementaraMuhammadiyah hanya punya satu yang benar-benar dikenal: Ustadz Adi Hidayat.

Ada pula kritik bahwa pendakwah Muhammadiyah kurangmampu tampil secara menarik secara online, karena banyakyang lebih memilih seminar formalistik atau menulis makalahilmiah yang sulit diakses.

Kesimpulan

Muhammadiyah tetap menjadi salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di Indonesia, dengan warisan lebih darisatu abad di bidang pendidikan, kesehatan, kebencanaan, dan pemberdayaan masyarakat. Perannya dalam membentukidentitas Muslim modern Indonesia tak terbantahkan.

Namun kekuatan institusional jangka panjang ini tampaknyajuga menumbuhkan rasa puas diri dan menyebabkankejumudan dalam tubuh Muhammadiyah.

Meski infrastrukturnya besar, Muhammadiyah kehilanganrelevansi—khususnya di generasi muda dan kelas menengahMuslim perkotaan yang selama ini menjadi basis massanya—yang kini tertarik pada wacana yang lebih reflektif, kontekstual, dan melek digital.

Penurunan ini bukan hanya akibat kompetisi eksternal, tetapijuga stagnansi internal. Keterikatan Muhammadiyah pada visimodernitas awal abad ke-20 membuatnya kurang adaptifterhadap arus posmodernimse dan post-Islamisme yang kinimembentuk pemikiran Islam kontemporer.

Sebagaimana terlihat dari bangkitnya pemikir post-tradisionalis NU dan meningkatnya daya tarik kelompokIslam transnasional, medan wacana telah berubah. Rasionalisme dan pemurnian Islam dari praktek TBC, yang selama ini dijunjung Muhammadiyah kini dianggap kaku dan jauh dari realitas hidup umat Muslim Indonesia.

Lebih jauh, respons Muhammadiyah terhadap isu moral dan ekonomi—seperti fatwa haram rokok dan air mineral—menunjukkan kurangnya sensitivitas terhadap realitas sosialekonomi akar rumput. Keterputusan dari budaya digital, regenerasi kader yang lambat, dan kurangnya tokohintelektual publik juga mengikis posisi simboliknya.

Untuk bangkit kembali, Muhammadiyah harus memperkuatkehadiran digitalnya, memperbarui strategi komunikasi, dan mengevaluasi kembali fondasi epistemologisnya. Ini mungkinmencakup keterlibatan lebih dalam dengan pendekatanpluralis, kontekstual, dan interdisipliner tanpa menghilangkansemangat reformisnya.

Hanya dengan cara itu Muhammadiyah dapat tetap relevansebagai kekuatan moral dan aktor strategis dalam lanskapkeagamaan dan sosial-politik Indonesia yang terus berubah.

*Artikel aslinya dimuat di Stratsea.com berjudul Understanding Muhammadiyah’s Waning Influence kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penulisnya dan dilakukan editing serta penyesuaian untuk konteks pembaca Indonesia.

Biodata Penulis

Irsyad Mohammad adalah penulis, penyair, pengamat Timur Tengah, dan peneliti yang bergerak dalam kajian sejarah, geopolitik, serta politik Islam. Ia menyelesaikan pendidikansarjana di Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia. Selama kuliahnya ia adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan telah aktif di HMI dari tingkat komisariathingga Pengurus Besar (PB) HMI. Kini Irsyad adalahmahasiswa S2 Islamic Studies di Universitas Paramadina.

Dalam bidang akademik, Irsyad pernah penulis The Dialogue between Qadian Ahmadiyya and Persatuan Islam in 1933(Atlantis Press, 2019) dan telah menerbitkan berbagai artikelmengenai sejarah dan perpolitikan Indonesia, politik Islam, kajian Timur Tengah, dan geopolitik di sejumlah media. Juga pernah menulis Understanding Muhammadiyah’s Waning Influence yang dimuat di Stratsea.com, sebuah think tank yang berbasis di Singapura.

Ia juga menjadi kontributor dalam berbagai buku yang diterbitkan Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) di bawahkepemimpinan Denny JA. Irsyad merupakan bagian dariKomunitas Puisi Esai Indonesia, sebuah genre puisi baru yang dipelopori oleh Denny JA, dan termasuk salah satu dari 10 inisiator lahirnya Angkatan Puisi Esai yang dideklarasikanDesember 2024 di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, hal yang menandai babak baru sejarah perpuisianIndonesia.

Selain karya-karya tersebut, Irsyad juga menulis berbagai esaipolitik, geopolitik, dan puisi esai untuk berbagai bukuantologi bersama berbagai penulis yang diterbitkan oleh Satupena.

Selain itu Irsyad menulis 2 bukunya sendiri yaitu Yang Luputdari Jantung Sejarah: Sejumlah Puisi Esai Kontemporer(2024), cetakan kedua (2025) dan Lima Saksi Reformasi Denny JA dalam Atas Nama Cinta: Suatu Analisis Sejarah atas Buku Puisi Esai Denny JA (2025).

Berita Terkait