Perspektif.co.id - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjadi sorotan setelah momen interaksinya dengan seorang prajurit TNI viral di tengah kunjungan kerja ke Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 827/Mahakam Cakti Yudha (MCY) di Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (13/1/2026). Dalam agenda tersebut, Sjafrie memberikan arahan kepada prajurit, termasuk penekanan pentingnya peningkatan kapasitas dan kesiapan tugas, salah satunya melalui penguasaan bahasa asing untuk penugasan di luar negeri.
Momen yang menyita perhatian terjadi ketika Sjafrie menyalami para prajurit yang baru selesai memperagakan demonstrasi olahraga pencak silat dan menerima medali. Seorang prajurit dari Yonif TP 827/MCY memperkenalkan diri dan menyebut asal daerahnya. “Siap, (asal) Bima, Nusa Tenggara Barat,” ucap prajurit tersebut saat bersalaman, sembari menyampaikan bahwa usianya menginjak 25 tahun.
Mendengar itu, Sjafrie menimpali dengan pertanyaan lanjutan. “25? Kamu masuk tamtama umur berapa?” tanya Sjafrie. Prajurit tersebut menjawab, “Siap, izin. 20 tahun.” Setelah mendengar jawaban itu, Sjafrie sempat menoleh ke arah sejumlah perwira yang mendampinginya dalam kunjungan tersebut.
Sjafrie kemudian menepuk pundak prajurit tersebut dan melontarkan pertanyaan yang lebih menekan. “Sudah 25 tahun. Kamu sudah pernah tugas operasi?” tanya Sjafrie, sembari menaruh kedua tangan di pundak kanan-kiri prajurit itu dan menatap matanya. Sjafrie lalu memberikan dua opsi yang diminta dijawab langsung. “Kamu tugas operasi, atau sekolah? (Pilih) mana? Kau pikir,” ujarnya dengan tegas.
Prajurit tersebut tampak gugup dan sempat menjawab normatif, “Siap, izin petunjuk.” Namun Sjafrie menolak jawaban menggantung itu dan mengulang pertanyaan dengan penekanan. “Bukan petunjuk, kau pilih mana? Mau tugas operasi atau tugas pendidikan?” kata Sjafrie. Setelah momen ragu-ragu itu, prajurit akhirnya memilih pendidikan dengan suara lantang, yang langsung direspons Sjafrie dengan tepukan di pundak, sebelum menoleh ke arah komandan di dekatnya.
Percakapan belum berhenti. Sjafrie kembali memastikan pilihan prajurit itu. “Kamu enggak mau tugas operasi?” tanya Sjafrie. Prajurit itu kemudian menjawab, “Siap, mau.” Komandan Brigif Teritorial Pembangunan 85/Benuo Taka Cakti Kolonel Infanteri Alzaki ikut menimpali untuk meluruskan situasi. “Karena dia bingung, tapi dia ingin yang terbaik,” kata Alzaki.
Sjafrie lalu memberikan penjelasan yang menjadi inti pesannya: jalur penugasan dan pendidikan tidak selalu berjalan dalam urutan yang dipahami prajurit. “Kalau tugas operasi, seorang prajurit akan menjalani pendidikan. Kalau pendidikan, belum tentu operasi. Jelas ya?” kata Sjafrie. Prajurit itu menjawab tegas, “Siap, jelas.”
Momen tersebut menyatu dengan pesan lebih besar yang disampaikan Sjafrie dalam kunjungan ke Yonif TP 827/MCY—yakni pembentukan prajurit yang bukan sekadar “administratif”, melainkan siap tampil dan terukur kapasitasnya. Dalam rangkaian kegiatan di Kutai Barat, Sjafrie menekankan pentingnya peningkatan kemampuan prajurit sebagai bekal penugasan, termasuk peluang latihan di dalam dan luar negeri serta program pembinaan bahasa Inggris. “Saya minta kalian tercipta suatu kemauan untuk belajar bahasa Inggris,” ujar Sjafrie dalam pengarahan di Yonif TP 827/MCY.
Di kesempatan yang sama, Sjafrie juga menyinggung dimensi jati diri prajurit sebagai satu kesatuan bangsa di tengah keberagaman latar belakang. “Kalian semua berasal dari beragam suku, beragam agama, beragam etnis… yang ada adalah prajurit Tentara Nasional Indonesia… tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional,” katanya.
Sementara itu, laporan dari media lain menyebut Sjafrie juga menegaskan fungsi tempur pasukan infanteri sekaligus peran batalyon teritorial pembangunan untuk mendukung agenda pemerintah, termasuk melalui kompi-kompi dengan kemampuan tambahan seperti pertanian, peternakan, kesehatan, dan konstruksi. “Kamu adalah prajurit Batalyon Infanteri… bertugas untuk mencari, menemukan, dan menghancurkan musuh,” kata Sjafrie, sambil menekankan bahwa aspek pembangunan tidak boleh menghilangkan karakter tempur infanteri.
Dengan latar pesan tersebut, pertanyaan “pilih pendidikan atau operasi” yang dilontarkan Sjafrie dibaca sebagai dorongan agar prajurit berani menentukan pilihan karier dan siap ditempa melalui jalur penugasan. Di ruang publik, momen itu memantik respons beragam: ada yang melihatnya sebagai “uji mental” di depan komandan, ada pula yang menilai itu cara Menhan memastikan prajurit memahami konsekuensi jalur pendidikan dan operasi dalam pembinaan personel.
Kunjungan Sjafrie ke Yonif TP 827/MCY sendiri turut dihadiri jajaran pimpinan TNI, di antaranya Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa, hingga komandan satuan terkait di wilayah tersebut.