Perspektif.co.id - Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyoroti kondisi penyintas banjir dan longsor di Aceh yang masih bertahan di pengungsian, termasuk tenda darurat, saat awal Ramadan 1447 H/2026. Tito menegaskan pemerintah mendorong percepatan relokasi dari wilayah berisiko tinggi dan meminta pembangunan hunian sementara (huntara) dipercepat agar warga tidak berlama-lama tinggal di tenda. “Saya ingin agar secepat mungkin dibangunkan hunian sementara yang layak, jangan lagi [tinggal] di tenda karena di tenda itu nggak nyaman,” ujar Tito dalam keterangan tertulis saat kunjungan kerja ke Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Jumat (20/2/2026).
Dorongan percepatan hunian itu berjalan beriringan dengan agenda pemulihan pascabencana di sejumlah kabupaten terdampak. Dalam agenda terpisah di Pidie Jaya, Tito menekankan pembangunan hunian tetap (huntap) dan infrastruktur penghubung sebagai prioritas, sembari menegaskan data penerima dari pemerintah daerah menjadi kunci agar pembangunan bisa dipacu. “Hunian tetap ini prosesnya melibatkan pemerintahan daerah… [penyiapan datanya]…,” kata Tito. Ia juga menyebut sudah berkoordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum (PU) terkait pembangunan jembatan permanen untuk memulihkan konektivitas dan distribusi logistik.
Di lapangan, beban penanganan masih besar. Data Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh per 19 Februari 2026 mencatat 47.657 jiwa masih berstatus pengungsi, dengan konsentrasi terbesar di Aceh Utara (19.248 jiwa), disusul Gayo Lues (9.041 jiwa) dan Aceh Tamiang (6.052 jiwa). Pada periode yang sama, pengungsi disebut tersebar di 263 titik. (Koran Aceh - Independen dan Terpercaya) Kondisi tersebut menunjukkan transisi dari tenda darurat ke hunian yang lebih layak masih berjalan dan belum merata di seluruh wilayah terdampak.
Pemerintah daerah juga didorong mempercepat pemindahan pengungsi. Dalam rapat koordinasi di Banda Aceh, Sekda Aceh Muhammad Nasir menekankan relokasi dari tenda ke huntara harus menjadi prioritas karena menyangkut kepastian tempat tinggal dan perlindungan warga. (Koran Aceh - Independen dan Terpercaya) Sejumlah laporan menyebut pembangunan huntara, huntap, hingga skema dana tunggu hunian masih terus berproses untuk mengejar kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Aceh Safrizal ZA sebelumnya melaporkan percepatan pembangunan huntara, dengan 6.211 unit disebut telah rampung 100% per 14 Februari 2026 dan terus dikejar untuk memindahkan warga dari tenda darurat ke hunian yang lebih layak. “Per 14 Februari ini sudah 6.211 unit Huntara yang rampung 100 persen. Kita terus mengejar target…,” kata Safrizal.