27 December 2025, 11:15

5 Tren Makanan Sehat Yang Akan Trend di 2026

Masuk 2026, tren makanan sehat diproyeksi kembali bergeser—bukan sekadar soal “rendah gula” atau “diet ketat”.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
2,221
5 Tren Makanan Sehat Yang Akan Trend di 2026
Ilustrasi. Beberapa kelompok makanan sehat diprediksi bakal ngtrend di 2026. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)

Perspektif.co.id - Masuk 2026, tren makanan sehat diproyeksi kembali bergeser—bukan sekadar soal “rendah gula” atau “diet ketat”, melainkan semakin menekankan fungsi spesifik: kulit lebih prima, usus lebih “tenang”, energi lebih stabil, sampai dukungan kognitif. Sejumlah pengamat tren gizi menilai tema lama seperti produk tinggi protein dan makanan yang ramah pengguna GLP-1 masih bertahan, tetapi perhatian mulai melebar ke klaim manfaat yang lebih “fungsional” dan mudah dipasarkan lewat produk siap konsumsi.

Mengacu pada rangkuman Real Simple yang dikutip CNN Indonesia, setidaknya ada lima tren makanan sehat yang diprediksi akan paling sering muncul di label produk, etalase ritel, hingga konten media sosial sepanjang 2026. Daftar itu menggambarkan kombinasi antara “kembali ke bahan nyata” dan “naiknya produk fungsional” yang menjanjikan manfaat dari dalam tubuh. 

Tren pertama adalah “beauty foods” atau konsep beauty from within yang makin kuat. Intinya, makanan yang sejak lama dikenal baik untuk kulit—seperti alpukat, salmon, aneka beri, telur, dan ubi jalar—diprediksi akan lebih “berani” memajang klaim kecantikan di kemasan. Real Simple menyebut klaim “beauty from within” bakal tampil lebih depan, bukan cuma jadi pembahasan di artikel gaya hidup. 
Dalam arus ini, kolagen disebut tetap menjadi bintang karena berperan menjaga struktur kulit, rambut, dan tulang. Yang membedakan, kolagen diprediksi makin sering hadir lewat produk siap konsumsi yang mudah diambil di rak harian—misalnya produk berbasis susu fermentasi—sekaligus “menumpang” tren kesehatan usus dan tulang. Real Simple juga menyinggung pengemasan ulang antioksidan seperti resveratrol agar manfaatnya tetap bisa dicari tanpa harus terkait konsumsi alkohol. 

Tren kedua justru terkesan “berbelok arah” dari euforia plant-based: beef tallow atau lemak sapi yang dimurnikan. Real Simple menjelaskan beef tallow kembali dilirik sebagai lemak memasak untuk suhu tinggi—dipakai untuk menumis, menggoreng, memanggang—dan daya simpannya panjang. (Real Simple)
Namun tren ini juga dibarengi catatan kehati-hatian. Real Simple menekankan bahwa lemak jenuh seperti beef tallow tidak diposisikan sebagai pengganti extra virgin olive oil untuk konsumsi sehari-hari, tetapi lebih sebagai “alternatif” bagi sebagian orang yang mengejar bahan minim pengawet dan mengikuti gelombang “ancestral foods”. (Real Simple)
Prediksi tren serupa juga muncul di proyeksi Whole Foods Market untuk 2026, yang menyinggung kebangkitan “ancestral fats” termasuk beef tallow seiring tren memasak dan preferensi rasa. 

Tren ketiga adalah “fiber maxxing”—sederhananya, era “protein segalanya” diprediksi mulai diimbangi oleh obsesi baru: serat. Real Simple menggambarkan beberapa tahun terakhir publik “dibombardir” pesan soal protein, sementara 2026 diprediksi jadi panggung serat sebagai nutrisi yang paling dicari untuk dukung kesehatan usus dan metabolisme.


CEO dan pendiri Beast Health, Colin Sapire, menyebut pergeseran itu mulai terasa dari perubahan fokus produk di pasar. “Protein has dominated the nutrition spotlight for the past several years, but this year we watched fiber step in and become the powerhouse nutrient,” ujarnya.


Dalam rekomendasinya, Real Simple juga menegaskan target asupan serat harian yang umum dipakai sebagai acuan, yakni sekitar 25–35 gram per hari, dengan penekanan bahwa sumber terbaik tetap makanan utuh—buah, sayur, biji-bijian utuh, kacang, dan biji—bukan semata bubuk dan bar instan.
Kecenderungan fokus serat ini juga selaras dengan prediksi media kesehatan lain yang menyebut serat akan menjadi salah satu tema dominan tren nutrisi 2026.

Tren keempat adalah “fancy butter”, alias mentega yang “naik kelas”. Dalam narasi Real Simple, mentega mendapat angin karena konsumen mencari small luxuries—kenikmatan kecil—di tengah rutinitas dan tekanan hidup, bersamaan dengan tren “return to real” dan nostalgia masak di rumah.
Analis budaya pangan sekaligus pendiri Food at the Helm, Janet Helm, menilai mentega diuntungkan karena diasosiasikan dengan kesederhanaan dan bahan minim proses. “Butter is benefiting from the ‘return to real’ trend,” kata Helm. (Real Simple)
Di 2026, yang diprediksi makin populer bukan hanya mentega biasa, tetapi cultured butter (mentega kultur) serta compound butter—mentega yang dicampur herba atau jamur—karena cukup satu-dua sendok untuk “mengangkat” rasa masakan rumahan. 

Tren kelima adalah creatine, suplemen yang selama ini identik dengan binaragawan dan performa fisik, tetapi diproyeksi makin “mainstream” karena riset baru memperluas persepsi manfaatnya. Real Simple menyebut creatine sebagai sumber energi alami yang membantu pemulihan ATP (energi sel), mendukung performa latihan, sekaligus berpotensi dikaitkan dengan manfaat fungsi otak dan kesehatan kulit. 

Berita Terkait