19 January 2026, 11:13

Bukan Cuma Buat Isi Waktu, 10 Hobi Ini Sering Dikaitkan dengan Umur Lebih Panjang

Hobi selama ini identik dengan hiburan dan pengisi waktu luang. Namun, sejumlah aktivitas rutin—mulai dari yang melibatkan gerak tubuh, stimulasi otak.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,166
Bukan Cuma Buat Isi Waktu, 10 Hobi Ini Sering Dikaitkan dengan Umur Lebih Panjang
Ilustrasi. Membaca diyakini jadi salah satu hobi yang bisa bikin panjang umur. (iStock/Sam Edwards)

JAKARTA, Perspektif.co.id - Hobi selama ini identik dengan hiburan dan pengisi waktu luang. Namun, sejumlah aktivitas rutin—mulai dari yang melibatkan gerak tubuh, stimulasi otak, kreativitas, hingga interaksi sosial—kian sering dipandang sebagai bagian dari strategi hidup sehat yang bisa mendukung penuaan yang lebih baik.

Sejumlah kajian kesehatan masyarakat menekankan bahwa perilaku harian yang konsisten, terutama yang menjaga kebugaran fisik dan kesehatan mental, berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit kronis dan menjaga kualitas hidup seiring bertambahnya usia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), misalnya, memasukkan aktivitas fisik teratur sebagai salah satu kunci pencegahan risiko kesehatan jangka panjang. “Adults should do at least 150–300 minutes of moderate-intensity…” aktivitas fisik per minggu, demikian garis besar rekomendasi WHO.

Merangkum berbagai rujukan kesehatan dan riset populasi, berikut 10 hobi yang kerap disebut berkaitan dengan peluang hidup lebih sehat dan berumur lebih panjang—dengan catatan, hubungan ini umumnya bersifat asosiasi (terkait), bukan jaminan sebab-akibat.

1, berkebun. Aktivitas ini sering dipandang “paket lengkap” karena memadukan gerak ringan, stimulasi mental, dan rasa tujuan saat merawat sesuatu. Sejumlah temuan riset populasi juga mengaitkan kebiasaan berkebun dengan profil kesehatan yang lebih baik pada lansia, termasuk perbedaan risiko kematian pada kelompok tertentu. (ScienceDirect)

2, aktivitas fisik teratur—mulai dari jalan kaki, berenang, menari, hingga latihan kekuatan. Olahraga yang konsisten membantu menjaga massa otot, kesehatan jantung, metabolisme, serta kebugaran fungsional. Rekomendasi WHO menempatkan aktivitas fisik sebagai fondasi penting untuk kesehatan sepanjang siklus hidup.

3, menyanyi atau bermain alat musik. Kegiatan bermusik melibatkan memori, koordinasi, fokus, dan proses belajar yang menantang otak. Beberapa studi dan tinjauan ilmiah menilai keterlibatan musik berpotensi mendukung fungsi kognitif, terutama saat dilakukan rutin dalam jangka panjang. (PubMed)

4, menjadi relawan (volunteer). Kegiatan ini kerap dikaitkan dengan rasa makna hidup, jejaring sosial, dan keterhubungan—faktor yang berulang kali muncul dalam studi kesehatan lansia. Salah satu studi kohort berbasis populasi di Inggris melaporkan adanya keterkaitan antara aktivitas relawan dan peluang bertahan hidup pada kelompok lansia tanpa disabilitas, meski hasilnya dipengaruhi berbagai faktor pembaur (covariates). (PMC)

5, seni dan kerajinan tangan—seperti melukis, merajut, fotografi, atau membuat prakarya. Aktivitas kreatif mendorong fokus, perencanaan, serta ekspresi emosi yang sehat. WHO Regional Office for Europe dalam laporan pemetaan evidensi juga membahas bagaimana keterlibatan seni kerap dihubungkan dengan peningkatan well-being dan dukungan kesehatan di berbagai fase kehidupan. (Organisasi Kesehatan Dunia)

6, membaca. Kebiasaan membaca sering dikaitkan dengan stimulasi kognitif yang menjaga otak tetap aktif. Studi kohort yang banyak dikutip menemukan pembaca buku memiliki peluang hidup lebih panjang dibanding nonpembaca dalam periode tindak lanjut tertentu—meski kembali, ini bersifat asosiasi dan dipengaruhi karakteristik gaya hidup lain. (PMC)

7, meditasi dan mindfulness. Praktik ini kerap dipakai untuk membantu regulasi stres—yang dalam jangka panjang berkaitan dengan kesehatan jantung, tidur, dan kesehatan mental. Sejumlah ulasan dan lembaga kesehatan menilai mindfulness dapat membantu sebagian orang mengelola stres dan gejala kecemasan/depresi, meski efeknya bervariasi antarindividu. (JAMA Network)

8, belajar bahasa baru. Aktivitas belajar bahasa menuntut memori, perhatian, dan pemecahan masalah. Sejumlah studi tentang bilingualisme dan kognitif pada lansia mengaitkan penggunaan lebih dari satu bahasa dengan aspek “cognitive reserve” dan keterlambatan munculnya gejala demensia pada sebagian temuan—meski hasil risetnya tidak selalu seragam antarstudi. (PubMed)

9, jalan-jalan di alam. Paparan ruang terbuka hijau dan aktivitas luar ruang sering dikaitkan dengan penurunan stres. Tinjauan sistematis mengenai respons stres real-time menyimpulkan indikator seperti denyut jantung, tekanan darah, dan laporan subjektif memberikan bukti paling meyakinkan bahwa waktu di luar ruang—terutama di area hijau—dapat menurunkan stres. “Heart rate, blood pressure, and self-report measures provide the most convincing evidence…,” tulis penulis dalam kesimpulan abstraknya. (ScienceDirect)

10, junk journaling—atau menyusun jurnal dari potongan kertas, foto, tiket, stiker, dan catatan harian. Praktik journaling sering diposisikan sebagai ruang refleksi dan ekspresi kreatif yang menenangkan. Literatur tentang expressive writing dan aktivitas kreatif umumnya menyoroti potensi manfaat psikologis, seperti membantu mengelola emosi dan stres, meski dampaknya bisa berbeda pada tiap orang. (PubMed)

Para peneliti menekankan, “hobi yang bikin panjang umur” bukan soal satu aktivitas sakti, melainkan konsistensi kebiasaan yang membuat tubuh bergerak, otak terstimulasi, stres lebih terkendali, dan hubungan sosial tetap hidup. Dalam praktiknya, pilihan hobi paling realistis adalah yang bisa dijalankan rutin—bukan yang paling keren di atas kertas.

Berita Terkait