14 December 2025, 16:09

Bendera Putih Berkibar di Aceh, Warga Korban Banjir-Longsor Ngaku “Menyerah” di Tengah Keluhan Bantuan Lambat

Aksi bendera putih ini dilaporkan muncul di beberapa daerah terdampak, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Tengah, hingga Pidie Jaya.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,540
Bendera Putih Berkibar di Aceh, Warga Korban Banjir-Longsor Ngaku “Menyerah” di Tengah Keluhan Bantuan Lambat
warga aceh kibarkan bendera putih karena bantuan lambat / Doc : Istimewa

Perspektif.co.id - Warga di sejumlah wilayah Aceh ramai-ramai memasang bendera putih di sepanjang jalan dan halaman rumah, menyusul kondisi pascabanjir dan longsor yang mereka nilai belum tertangani memadai. Aksi bendera putih ini dilaporkan muncul di beberapa daerah terdampak, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Tengah, hingga Pidie Jaya, setelah warga bertahan dalam situasi darurat berhari-hari dengan keterbatasan logistik dan layanan dasar. 

Di Aceh Tamiang, bendera putih terlihat terbentang di ruas jalan lintas Sumatera kawasan Karang Baru hingga sekitar Kota Kualasimpang. Warga menyebut pengibaran tersebut sebagai simbol bahwa mereka sudah tidak sanggup lagi bertahan tanpa penanganan dan bantuan yang cepat, terutama untuk pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya. 

Seorang warga Langsa, Tgk Hanafi, mengatakan pengibaran bendera putih merupakan respons atas lambannya penanganan pascabencana yang, menurutnya, sudah berlangsung sekitar dua pekan. Ia menyebut aksi itu juga dimaksudkan sebagai sinyal keadaan darurat agar bantuan segera mengalir. “Artinya darurat. Aceh dalam kondisi darurat bencana jadi kami memohon kepada pihak luar negeri agar datang membawa bantuan untuk tangani pascabanjir ini, kita tidak bisa berharap lagi dengan pusat,” kata Tgk Hanafi kepada wartawan.

Nada serupa juga disampaikan Dicky, warga Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah. Ia menggambarkan situasi di wilayahnya sebagai “lumpuh total” mulai dari logistik yang minim, akses jalan yang terputus, hingga pemadaman listrik berhari-hari. “Pemerintah seharusnya sudah memicu bencana nasional. 15 hari kami di tenda pengungsian untuk makan saja 1 hari 1 kali itupun tidak ada kepastian, semua pengungsi di sini sudah pasrah tinggal menunggu kematian,” ujarnya.

Dalam beberapa laporan media lokal, keluhan warga mengerucut pada persoalan air bersih, listrik, dan stok makanan yang menipis, sementara distribusi bantuan dinilai belum merata dan di sejumlah titik lebih banyak ditopang relawan maupun masyarakat. (Acehsiana.com - Informatif dan Kredibel) Seorang warga Aceh Tamiang bahkan mengaku tidak tahu lagi harus meminta pertolongan ke mana, lantaran peralatan rumah tangga dan perlengkapan memasak rusak diterjang banjir. 

Di Aceh Tengah, kondisi kelistrikan sempat dilaporkan padam lama sebelum menyala kembali secara bertahap, namun belum stabil. Sejumlah warga menyebut listrik yang sempat menyala kembali masih sering mati-hidup dan belum pulih sepenuhnya. 

Aksi pemasangan bendera putih ini juga beriringan dengan agenda kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke wilayah terdampak bencana di Aceh. Prabowo dilaporkan meninjau wilayah banjir di Aceh, termasuk Aceh Tamiang, usai kembali dari lawatan luar negeri. 

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan Prabowo tiba di Medan pada dini hari dan melanjutkan agenda peninjauan ke sejumlah titik bencana di Aceh pada hari yang sama. (detikcom) Dalam laporan yang sama, detikSumut mengutip data BNPB per Kamis (11/12/2025) terkait dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, termasuk korban meninggal, hilang, luka-luka, kerusakan rumah, serta jumlah pengungsi. 

Sementara itu, di lapangan, warga berharap penanganan darurat diperkuat dan kebutuhan dasar dipastikan tersedia—mulai dari distribusi makanan siap saji, air minum dan air bersih, layanan kesehatan, hingga pemulihan akses jalan dan listrik—agar pengungsi tidak berlarut-larut berada dalam kondisi rentan.

Berita Terkait