Perspektif.co.id - Indeks dolar Amerika Serikat (AS) tercatat melemah pada perdagangan Kamis (11/12/2025), turun ke kisaran 112,25 terhadap sekeranjang mata uang utama.
Penurunan ini terjadi setelah pasar merespons keputusan Federal Reserve yang memotong suku bunga acuannya ke level 3,50%–3,75%, titik terendah dalam tiga tahun. Kebijakan tersebut menekan daya tarik dolar karena imbal hasil aset dolar menjadi lebih rendah, sehingga mendorong investor melakukan reposisi portofolio.
Sentimen dolar juga dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, termasuk laporan penyitaan kapal tanker di dekat perairan Venezuela yang memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi dunia.
Kombinasi penurunan suku bunga dan gejolak geopolitik membuat indeks dolar bergerak sensitif terhadap rilis data ekonomi AS maupun perkembangan pasar komoditas.
Dalam waktu dekat, pasar akan menyoroti data inflasi dan tenaga kerja AS sebagai indikator arah pergerakan dolar selanjutnya. Selama ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap kuat, tekanan pelemahan dolar diperkirakan masih berlanjut, meski ruang penguatan jangka pendek tetap terbuka apabila data ekonomi menunjukkan kejutan positif.
Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi negara berkembang termasuk Indonesia, terutama terkait stabilitas rupiah dan arus modal masuk.***