27 February 2026, 19:12

Ngaku Pernah Didorong hingga Dipukul, Mahasiswa UI “Meledak” di Depan Mabes Polri: “Apa Hak Anda Memeriksa?”

Sejumlah mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), UPN “Veteran” Jakarta, dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) menggelar aksi demonstrasi

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Deden M Rojani
562
Ngaku Pernah Didorong hingga Dipukul, Mahasiswa UI “Meledak” di Depan Mabes Polri: “Apa Hak Anda Memeriksa?”
Foto: Sejumlah mahasiswa demo di depan Mabes Polri terkait kasus kematian siswa AT di Tual, Maluku. (dok Istimewa)

JAKARTA, Perspektif.co.id - Sejumlah mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), UPN “Veteran” Jakarta, dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) menggelar aksi demonstrasi di depan gerbang utama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026) sore. Aksi tersebut digelar sebagai respons atas kasus kematian siswa berinisial AT di Tual, Maluku, yang diduga meninggal setelah mengalami penganiayaan oleh oknum anggota Brimob, Bripda MS.

Pantauan di lokasi, massa mulai tiba sekitar pukul 16.00 WIB. Aparat kepolisian tampak berjaga di pintu utama Mabes Polri. Sejumlah personel yang mengawal jalannya aksi terlihat mengenakan peci putih dan sorban putih yang melingkar di leher. Tak berselang lama, rombongan mahasiswa UI datang mengenakan jaket almamater kuning sambil membawa berbagai atribut aksi.

Dalam situasi yang awalnya cenderung kondusif, beberapa mahasiswa terlihat mencoba berinteraksi dengan barisan petugas. Ada yang berdiri tepat di hadapan aparat, ada pula yang sempat berpose bersama. Namun, tensi sempat meninggi ketika seorang mahasiswa berinisial SB (20) terlihat menunjuk salah satu anggota kepolisian dengan nada tinggi.

SB mengaku reaksinya dipicu oleh ingatan pertemuan sebelumnya dengan aparat dalam aksi massa lain. Ia mengatakan pernah melihat sosok yang ditunjuknya saat insiden pada aksi di GBK Arena, sebelum peristiwa Affan Kurniawan dilindas kendaraan Brimob. “Iya (pernah ketemu polisi itu) di GBK Arena waktu sebelum (kejadian) Affan Kurniawan dilindes sama Brimob,” katanya.

SB menuturkan, pada momen aksi sebelumnya itu ia dan rekan-rekannya berniat bergabung ke barisan massa demonstran. Namun, menurut pengakuannya, kelompoknya justru berhadapan dengan tindakan represif. Ia menyebut ada pemeriksaan di lapangan, lalu ia mempertanyakan dasar kewenangan pemeriksaan tersebut.

“Gua masuk sama teman-teman gua 12 orang (mau masuk ke massa aksi). Pas gua diperiksa, gua nanya, ‘Apa hak Anda memeriksa? Apakah polisi atau bukan?’. Enggak menjawab, saya langsung didorong, jatuhkan di tanah, dipukul,” ujar SB.

Ia juga menyampaikan bahwa orang-orang yang disebutnya bertindak saat itu tidak mengenakan seragam dinas kepolisian. SB memperkirakan mereka datang berkelompok, jumlahnya sekitar 30 orang. Kendati demikian, ia tidak dapat memastikan apakah polisi yang ia teriaki pada demo di depan Mabes Polri sore itu merupakan orang yang sama, karena ia mengaku bukti video masih ada di telepon genggamnya namun aksesnya terhambat.

“Mirip seperti dia, tapi saya belum bisa memastikan dia apa bukan, karena videonya ada di HP saya, namun sekarang sinyalnya belum ada,” ucap SB.

Meski mengaku sempat mengalami tindakan kekerasan pada kejadian sebelumnya, SB menyebut di saat yang sama ada anggota polisi lain yang membantunya. Ia menegaskan sosok yang menolong berbeda dengan pihak yang disebutnya bertindak represif. “Dan alhamdulillah ada satu orang menolong saya, itu polisi baik, memisahkan saya,” tuturnya.

Berita Terkait