20 October 2025, 01:54

OJK Desak Bank Buka Kredit ke Desa, Ekonomi NTT Bisa Ngebut Asal Mau Turun Tangan!

Kinerja perbankan di NTT masih membuka ruang ekspansi. Hingga Agustus 2025, aset perbankan tumbuh 4,04 persen dan kredit naik 1,52 persen.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Deden M Rojani
2,948
OJK Desak Bank Buka Kredit ke Desa, Ekonomi NTT Bisa Ngebut Asal Mau Turun Tangan!
OJK Perkuat Sinergi Perbankan dan Pemerintah Daerah Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Nusa Tenggara Timur. / Doc: Humas OJK

JAKARTA, Perspektif.co.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat peran sektor perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di kawasan timur Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara perbankan, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dalam memperluas akses pembiayaan ke sektor produktif.

"NTT memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan tren pertumbuhan yang positif. Ini momentum bagi industri perbankan untuk lebih aktif menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang punya daya saing," ujar Dian saat pertemuan dengan Bank Indonesia, BMPD NTT, dan Perbarindo di Kantor OJK NTT, Jumat (17/10).

Dian menyampaikan, kinerja perbankan di NTT masih membuka ruang ekspansi. Hingga Agustus 2025, aset perbankan tumbuh 4,04 persen, kredit naik 1,52 persen, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,96 persen. Loan to Deposit Ratio (LDR) yang tercatat 120,37 persen menunjukkan tingginya permintaan pembiayaan di daerah ini, meskipun rasio kredit bermasalah (NPL) masih berada di angka 4,10 persen.

"Sektor pertanian masih jadi tulang punggung ekonomi di sini, tapi penyaluran kredit ke sektor itu masih rendah, baru 4,66 persen. Ini peluang yang harus dijawab dengan strategi pembiayaan yang lebih inklusif," tambahnya.

Pariwisata juga disorot sebagai motor baru ekonomi NTT. Sepanjang 2024, wisatawan domestik dan mancanegara tumbuh masing-masing 57,64 persen dan 53,78 persen. Dengan lebih dari 1.600 objek wisata di 22 kabupaten/kota, Dian menilai perbankan bisa lebih proaktif dalam mendukung UMKM dan sektor penunjang pariwisata.

"Kita perlu memperkuat ekosistem pembiayaan di sekitar destinasi wisata, termasuk warung kecil, homestay, transportasi lokal, dan ekonomi kreatif. Inilah yang akan menghidupkan ekonomi masyarakat bawah," tegasnya.

Ia juga menyoroti potensi ekonomi kelautan, khususnya rumput laut, garam, dan hasil tangkapan laut bernilai tinggi seperti lobster dan kerapu. Menurutnya, sektor ini belum tergarap optimal oleh lembaga keuangan.

"NTT adalah penghasil rumput laut terbesar kedua nasional, kontribusinya 15,2 persen. Bank harus berani masuk ke sektor ini, tentu dengan mitigasi risiko yang baik," katanya.

Dalam audiensi terpisah dengan Gubernur NTT, Emanuel Melki Laka Lena, OJK dan Pemprov NTT membahas strategi memperluas inklusi keuangan hingga ke wilayah kepulauan dan daerah tertinggal. Fokusnya antara lain adalah pembiayaan pertanian, perikanan, pariwisata, dan UMKM secara lebih agresif.

"Daerah kami sangat membutuhkan kehadiran perbankan yang lebih dekat ke masyarakat. Saya harap OJK bisa fasilitasi agar literasi keuangan dan akses pinjaman tidak hanya dinikmati di kota besar," ucap Melki dalam pertemuan di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Rabu (15/10).

Selain itu, Dian juga memberikan kuliah umum di Universitas Nusa Cendana dalam program OJK Mengajar. Di hadapan mahasiswa, ia menekankan pentingnya pemahaman terhadap sistem keuangan, digitalisasi layanan, dan etika keuangan di tengah era disrupsi.

"Generasi muda adalah penjaga kepercayaan publik terhadap sistem keuangan. Tanpa literasi yang baik, kita akan sulit membangun ekonomi yang kuat dan tangguh," ujar Dian.

Berita Terkait