Perspektif.co.id - Memanasnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali mengguncang pasar energi global. Namun di tengah kekhawatiran soal gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah, negara yang dinilai paling rentan terdampak bukanlah China, melainkan India—meski kedua negara sama-sama mengandalkan impor minyak dari kawasan tersebut.
Sejumlah analis menilai India berada di posisi paling berisiko ketika eskalasi konflik berujung pada gangguan pasokan yang berkepanjangan, terutama karena bantalan cadangan energi India dinilai relatif tipis dibanding para pembeli besar lain di Asia. Di sisi lain, China dinilai memiliki ruang manuver lebih lebar karena stok minyak mentahnya jauh lebih besar.
“China memiliki persediaan minyak mentah setara untuk setidaknya enam bulan. Sementara itu, cadangan India jauh lebih rendah, sehingga negara ini jauh lebih rentan dalam situasi ini,” kata Direktur Energi dan Pengolahan ICIS Ajay Parmar, sebagaimana dikutip dalam laporan yang merujuk Reuters, Selasa (3/3/2026).
Tekanan pasar meningkat setelah eskalasi perang yang dipicu serangan Israel dan AS terhadap Iran dilaporkan mendorong situasi di Selat Hormuz—jalur sempit strategis yang menjadi nadi perdagangan energi—ke level sangat genting. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai “chokepoint” yang krusial karena mengalirkan porsi besar pasokan energi dunia. Sejumlah laporan internasional menyebut sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur ini, sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi menular cepat ke harga energi dan biaya logistik lintas negara.
Pasar bereaksi cepat. Harga minyak Brent dilaporkan melonjak tajam pada awal pekan, mencerminkan kekhawatiran investor bahwa gangguan bukan hanya bersifat sementara. Lonjakan tersebut memicu kekhawatiran lanjutan: jika konflik bertahan lama dan jalur distribusi tidak pulih, harga energi berisiko terdorong lebih tinggi, memukul inflasi dan menekan daya beli di banyak negara, termasuk kawasan Asia yang selama ini menjadi pembeli utama minyak Timur Tengah.
Dalam konteks Asia, India disorot karena impor minyaknya kembali makin berat ke Timur Tengah. Per Januari 2026, kawasan Timur Tengah disebut menyumbang sekitar 55% impor minyak mentah India atau sekitar 2,74 juta barel per hari—angka yang disebut menjadi yang tertinggi sejak akhir 2022 setelah kilang-kilang India mengurangi pembelian minyak Rusia di bawah tekanan Washington
Secara teori, pemerintah India pernah menyampaikan negaranya memiliki kapasitas penyimpanan minyak dan bahan bakar untuk sekitar 74 hari. Namun, sumber di sektor pengilangan menyebut ketersediaan riil yang siap pakai saat ini diklaim hanya cukup untuk sekitar 20 hingga 25 hari, sehingga membuat India lebih sensitif terhadap gejolak pasokan
Jika gangguan benar-benar berlarut, India diperkirakan harus berebut pasokan alternatif dari luar Timur Tengah—yang berarti menambah biaya impor dan memperumit strategi pengadaan kilang. Pemerintah di New Delhi disebut akan mengambil berbagai langkah untuk memastikan pasokan BBM tersedia dengan harga terjangkau, termasuk menyiapkan skenario substitusi impor apabila jalur normal terganggu (mengacu pada laporan yang merujuk Reuters).
Di tengah ketegangan itu, posisi AS juga menjadi sorotan. Laporan yang sama menyebut pemerintah AS belum memberikan respons langsung terkait kemungkinan memberi ruang kepada India untuk kembali membeli minyak Rusia tanpa kembali dikenai tarif impor 25%. Sementara Menlu AS Marco Rubio dikabarkan menyatakan Departemen Keuangan dan Departemen Energi AS akan mengumumkan langkah untuk menahan kenaikan harga energi
Ketergantungan Asia terhadap minyak Timur Tengah membuat dampak gangguan pasokan dinilai tidak merata, tetapi luas. Secara historis, Asia menyerap porsi terbesar ekspor minyak dari kawasan Teluk dan rute-rute pengapalan strategis. Sejumlah rujukan juga menyebut mayoritas arus minyak mentah dan LNG yang melewati jalur Hormuz mengalir ke pasar Asia.
Jepang dan Korea Selatan memang sama-sama sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, namun keduanya disebut memiliki cadangan jauh lebih tebal. Dalam laporan yang merujuk Reuters, Jepang diklaim memiliki stok setara 254 hari konsumsi, sementara pejabat Korea Selatan menyebut stok negaranya cukup sekitar 208 hari—memberi bantalan lebih kuat saat pasar terguncang (mengacu pada laporan CNN Indonesia yang mengutip Reuters). Faktor cadangan inilah yang membuat India dinilai paling “rentan duluan” ketika gangguan pasokan terjadi bersamaan dengan lonjakan permintaan musiman atau ketegangan logistik.
Di luar Asia, Eropa dan AS disebut bukan pembeli utama minyak mentah Timur Tengah. Namun keduanya tetap akan ikut terdampak bila gangguan Selat Hormuz berkepanjangan, melalui mekanisme harga minyak global yang naik dan memicu biaya energi, transportasi, serta produksi ikut menanjak. Bahkan, analis Kpler Matt Smith dalam laporan yang merujuk Reuters menambahkan Eropa berpotensi menghadapi tantangan akses bahan bakar jet karena kawasan Teluk Timur Tengah disebut menyuplai porsi signifikan impor bahan bakar jet Eropa melalui jalur laut (mengacu pada laporan CNN Indonesia yang mengutip Reuters).
Pada akhirnya, pasar membaca satu risiko utama: jika konflik Timur Tengah berlangsung lama dan Selat Hormuz tidak dapat digunakan dalam periode panjang, banyak negara akan saling bersaing untuk mendapatkan “setiap barel tambahan” yang tersedia di pasar global—memicu volatilitas harga yang lebih ekstrem dan memperlebar tekanan inflasi.