20 December 2025, 16:15

Kredit Tembus Rp9,1 Triliun, Ini Skala Bisnis SUPA di Balik Lonjakan Sahamnya

Saham SUPA melonjak hampir 100 persen usai IPO. Pasokan terbatas, ekosistem teknologi besar, dan euforia pasar jadi pemicu.

Reporter: Irfan Farhani
Editor: Redaksi Perspektif
1,998
Kredit Tembus Rp9,1 Triliun, Ini Skala Bisnis SUPA di Balik Lonjakan Sahamnya
Ilustrasi. Harga Saham SUPA menyentuh batas auto reject atas (ARA).

Perspektif.co.id – Saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatat lonjakan signifikan hanya beberapa hari setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari harga penawaran umum perdana (IPO) Rp635 per saham, SUPA sempat diperdagangkan di kisaran Rp1.230 per saham, atau menguat sekitar 93 persen.

Euforia pasar sudah terlihat sejak hari pertama pencatatan pada Rabu (17/12). Saat itu, saham SUPA langsung menyentuh batas auto reject atas (ARA) dengan harga pembukaan Rp790 per saham. Pencatatan tersebut sekaligus menjadikan SUPA sebagai emiten ke-26 yang melantai di BEI sepanjang 2025 dan menjadi IPO terbesar di segmen bank digital tahun ini.

Antusiasme investor juga tercermin dari proses penawaran saham perdana. Bank digital yang sebelumnya bernama Bank Fama International itu mencatatkan kelebihan permintaan hingga ratusan kali. Dalam IPO ini, perseroan melepas sekitar 4,4 miliar saham baru atau setara 13 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan dana yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp2,79 triliun.

Dari sisi kepemilikan, struktur pemegang saham pasca-IPO didominasi oleh investor strategis. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) menjadi pemegang saham terbesar, disusul entitas yang terafiliasi dengan Grab, GXS Bank, serta KakaoBank. Porsi saham publik relatif terbatas, berada di kisaran 13–15 persen, sementara sebagian besar saham investor utama masih terkunci melalui mekanisme lock-up selama 12 bulan.

Kondisi tersebut membuat pasokan saham SUPA di pasar menjadi terbatas. Di tengah permintaan yang tinggi pasca-IPO, keterbatasan saham beredar inilah yang turut mendorong pergerakan harga SUPA melesat agresif dalam waktu singkat.

Di luar faktor teknikal, SUPA juga membawa cerita fundamental berupa transformasi menjadi bank digital berbasis ekosistem teknologi. Hingga Oktober 2025, perseroan mencatat dana pihak ketiga (DPK) sekitar Rp10,6 triliun, kredit Rp9,1 triliun, aset Rp17,6 triliun, serta basis nasabah yang telah melampaui 5 juta pengguna.

Dana hasil IPO tersebut rencananya akan digunakan untuk memperkuat ekspansi kredit, khususnya ke segmen ritel dan UMKM, sekaligus mendukung pengembangan teknologi digital serta peningkatan keamanan siber. 

Meski demikian, analis mengingatkan bahwa lonjakan harga saham pasca-IPO membuat valuasi SUPA berada di level premium dibandingkan bank digital lain, sehingga pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada realisasi kinerja dan pertumbuhan bisnis ke depan.***

Berita Terkait