30 December 2025, 22:29

OJK Beberkan Kinerja Pasar Modal 2025: IHSG 8.644, Investor Tembus 20 Juta

OJK menilai pasar modal Indonesia solid sepanjang 2025. IHSG naik 22,10% ke 8.644, kapitalisasi pasar Rp15.810 triliun, investor 20,2 juta didominasi milenial.

Reporter: Irfan Farhani
Editor: Redaksi Perspektif
1,722
OJK Beberkan Kinerja Pasar Modal 2025: IHSG 8.644, Investor Tembus 20 Juta
Sesi foto bersama Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia.

Perspektif.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Pasar Modal Indonesia tampil solid dan berdaya tahan sepanjang 2025, meski dibayangi ketidakpastian global mulai dari arah kebijakan moneter, tensi geopolitik, hingga tekanan sentimen perdagangan pada awal tahun. 

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), lonjakan kapitalisasi pasar, serta pertumbuhan investor domestik terutama generasi muda menjadi penopang utama kinerja pasar modal sepanjang tahun ini.

Penilaian tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan, Inarno Djajadi, dalam sambutan pada Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2025 di Jakarta, Selasa. Inarno menegaskan, capaian kinerja pasar modal sepanjang 2025 tidak terlepas dari kolaborasi erat antara OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), pelaku industri, serta seluruh pemangku kepentingan.

“Pasar Modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin menguat. Berbagai tantangan telah menguji ketangguhan dan ketahanan kita dalam mendorong pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan memperkokoh pondasi Pasar Modal Indonesia ke depan. Capaian ini tentu tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil dari kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di industri pasar modal,” ujar Inarno.

Acara penutupan perdagangan BEI 2025 turut dihadiri Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono, jajaran direksi dan komisaris Self-Regulatory Organization, serta perwakilan pimpinan pelaku industri pasar modal.

Dalam konferensi pers penutupan perdagangan BEI 2025, Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK Eddy Manindo Harahap memaparkan kinerja pasar modal hingga 19 Desember 2025. OJK mencatat IHSG tumbuh 22,10 persen secara year to date (ytd) dan ditutup pada level 8.644,26. Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar menembus Rp15.810 triliun atau tumbuh 28,16 persen ytd.

Capaian tersebut melampaui target Roadmap Pasar Modal dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dengan rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) 2024 mencapai 71,41 persen. Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) tercatat menguat 12,10 persen ytd ke level 440,19.

Kinerja positif juga tercermin pada industri pengelolaan investasi. Dana kelolaan atau assets under management (AUM) mencapai Rp1.039 triliun, tumbuh 24,16 persen ytd. Sementara itu, penghimpunan dana di pasar modal sepanjang 2025 tercatat Rp268,14 triliun dari 210 penawaran umum, termasuk 18 emiten baru saham dan dua emiten efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS). Nilai tersebut melampaui target penghimpunan dana Rp220 triliun.

Selain itu, penghimpunan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) juga terus berkembang. OJK mencatat nilai penghimpunan dana SCF secara akumulatif mencapai Rp1,808 triliun dari 968 penerbit.

Dari sisi pengembangan instrumen baru, OJK menyoroti pertumbuhan perdagangan karbon. Sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 29 Desember 2025, volume transaksi bursa karbon tercatat mencapai 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen dengan nilai Rp80,75 miliar. Aktivitas tersebut melibatkan 150 perusahaan, dengan ketersediaan unit karbon sebesar 2,67 juta ton CO₂ ekuivalen.

Basis investor ritel domestik juga mencetak rekor baru sepanjang 2025. Jumlah Single Investor Identification (SID) bertambah 5,34 juta investor baru, sehingga total mencapai 20,2 juta SID. Dari jumlah tersebut, sekitar 79 persen didominasi investor berusia di bawah 40 tahun, mencerminkan kuatnya peran generasi muda dalam pendalaman pasar modal nasional.

Dalam rangka menjaga integritas pasar, OJK melaporkan telah melakukan 219 pemeriksaan teknis dan 155 pemeriksaan khusus sepanjang 2025 terkait dugaan pelanggaran, dengan 116 kasus di antaranya berkaitan dengan transaksi saham. OJK juga menjatuhkan 120 sanksi administratif atas kasus pelanggaran, 1.180 sanksi keterlambatan penyampaian laporan, serta 65 sanksi non-kasus lainnya. Bentuk sanksi yang diberikan meliputi enam pencabutan izin, enam perintah tertulis, dan 329 peringatan tertulis, dengan total denda administratif mencapai Rp123,3 miliar.

Dari sisi regulasi dan transformasi, OJK sepanjang 2025 menerbitkan 10 Peraturan OJK (POJK) serta enam SEOJK/PADK. Beberapa regulasi utama di antaranya POJK Nomor 1 Tahun 2025 tentang Derivatif Keuangan Berbasis Efek sebagai tonggak penguatan pengawasan derivatif dengan underlying efek, POJK Nomor 9 Tahun 2025 tentang Dematerialisasi Efek Ekuitas dan Aset Tidak Diklaim, serta POJK Nomor 15 Tahun 2025 mengenai pemeringkatan reksa dana dan manajer investasi berbasis rating dan ranking.

OJK juga meluncurkan buku “Mengenal dan Memahami Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan” pada 15 Juli 2025 sebagai referensi bagi industri dan publik dalam memperkuat ekosistem ekonomi hijau. Di sisi layanan, OJK melakukan integrasi melalui penyatuan sistem SPRINT OJK dan SPEK KSEI untuk pendaftaran reksa dana, guna menciptakan proses perizinan yang lebih cepat, akurat, dan terpusat.

Memasuki 2026, OJK menetapkan empat agenda strategis di bidang pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon. Agenda tersebut mencakup pendalaman pasar melalui penguatan sisi supply, demand, serta infrastruktur pengawasan; peningkatan integritas pasar melalui efektivitas sanksi dan peningkatan kualitas emiten; penguatan kelembagaan perusahaan efek dan manajer investasi termasuk ketahanan siber dan pengendalian internal; serta pengembangan keuangan berkelanjutan melalui perluasan pengguna jasa bursa karbon dan penyusunan roadmap keberlanjutan periode 2026–2030.

OJK bersama SRO mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, industri, dan masyarakat, guna mendukung program strategis nasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.***

Berita Terkait