06 December 2025, 09:40

Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Melejit 5,28%? Inilah 8 Pilar Penopang Ekonomi RI 2026

BSI memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,28% pada 2026, didorong konsumsi, investasi, dan kebijakan fiskal, meski berada ditengah tekanan global.

Reporter: Irfan Farhani
Editor: Redaksi Perspektif
1,800
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Melejit 5,28%? Inilah 8 Pilar Penopang Ekonomi RI 2026
Pertumbuhan Ekonomi RI/Ilustrasi

Perspektif.co.id - Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap tangguh pada 2026. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memproyeksikan pertumbuhan mencapai 5,28 persen, lebih tinggi dari estimasi 5,04 persen pada 2025. 

Optimisme tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang utama PDB, penguatan investasi domestik, serta arah kebijakan fiskal pemerintah yang tetap ekspansif namun lebih terkendali.

Chief Economist BSI, Banjaran Surya, menilai tantangan global masih menjadi faktor pembatas. Namun, ia menekankan bahwa Indonesia memiliki modal fundamental yang kuat untuk mempertahankan momentum pemulihan. 

“Banyak faktor global yang menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan lebih tinggi, terutama yang terkait perdagangan sektor riil dan dinamika pasar keuangan. Tantangan ini tidak hanya untuk 2025, tetapi juga tahun-tahun berikutnya,” ujarnya dalam Sharia Economic Outlook 2026, dikutip Jumat (5/12).

BSI menyusun outlook perekonomian berdasarkan delapan fondasi analisis, mulai dari normalisasi perdagangan global, pergeseran alokasi aset ke emerging markets, prospek penguatan rupiah, hingga agenda hilirisasi pemerintah. 

Analisis tersebut memberi gambaran bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga meski tekanan eksternal meningkat.

Banjaran menguraikan sedikitnya lima arus besar global yang harus diwaspadai karena dapat memengaruhi sektor riil dan keuangan domestik. 

Risiko tersebut meliputi tekanan utang negara, potensi bubble pasar akibat valuasi yang terlalu tinggi, ketegangan perdagangan internasional, perlambatan ekonomi global yang semakin terfragmentasi, serta perubahan pola produksi dan distribusi dunia akibat teknologi berbasis kecerdasan artifisial.

Ia menilai dinamika tersebut dapat memberikan tekanan terhadap konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah, namun juga membuka peluang baru jika dapat dimanfaatkan dengan tepat. 

BSI menegaskan bahwa strategi pemerintah, termasuk program prioritas dan stabilitas fiskal, akan memegang peran penting menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.***

Berita Terkait